Tampilkan postingan dengan label Kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Oktober 2011

Tempe Setengah Jadi

Diceritakan ada seorang janda produsen sekaligus penjual tempe. Wanita ini memiliki dua orang anak yang masih sekolah. Untuk menghidupi keluarganya, wanita ini harus berjuang membuat tempe lalu menjualnya ke pasar.

Suatu hari, seperti biasa ia membuat tempe yang akan dibawanya ke pasar esok paginya. Namun, ada yang berbeda. Olahan kedelai tidak juga mengeras seperti biasanya. Sampai pada waktu yang biasanya, ia mengintip cetakan tempe yang berisi kedelai tersebut rupanya tidak juga jadi sepenuhnya, hanya setengah jadi. "Duh, kok tumben lembek gini. Kalau sampai ngga jadi gimana bisa aku jual ke pasar?", tanyanya dalam hati sambil berdoa agar isi di cetakan ini bisa mengeras menjadi tempe yang sebenarnya. Wanita ini memutuskan untuk menunggu dan tetap berharap semua berjalan lancar.

Setelah sekian lama, ia kembali ke tempat cetakan tempe. Diintipnya isi cetakan itu. Raut kebingungan kembali tampak di wajah janda ini, harapannya tidak terkabul. Ia belum putus asa, ia putuskan kembali menunggu sambil berdoa kepada Allah. Selama ia menunggu, pikirannya disibukkan dengan berbagai hal, terutama nasib keluarganya. Ia hanya produsen dan penjual kecil. Hasil penjualan tempe akan ia gunakan untuk keperluan sehari-hari dan modal membuat tempe di keesokan harinya. Jika sampai ia gagal membuat tempe kali ini, entah dari mana ia bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dan modal usaha kecilnya itu. Tapi segera ia tersadar dari lamunannya. Ia tahu bahwa ia hanya bisa berusaha, sedangkan yang menentukan hasilnya adalah Allah Swt, manusia mampu berikhtiar tapi juga harus bertawakal.

Setelah beberapa kali mengintip dan menyadari tidak ada perubahan pada isi cetakan tempe. Wanita ini memutuskan untuk tetap membawa tempe setengah jadi ini ke pasar. Ini adalah usaha terakhir yang bisa ia lakukan. Dengan langkah yang berat ia membawa produk tempenya ke pasar. Di sana sudah ramai dengan berbagai penjual dan pembeli. Ia pun mulai menggelar dagangannya. Setiap kali ada orang yang ingin membeli tempenya, dengan jujur ia mengatakan bahwa tempenya setengah jadi, dan si calon pembelinya pun akhirnya mengurungkan niat untuk membeli. "Mana ada orang yang mau membeli tempe setangah jadi?", gumamnya sambil menghela napas. Dalam hati, ia terus memanjatkan doa barang kali ada keajaiban.

"Bu, saya mau beli tempe. Ada ngga yang setengah jadi?", seorang wanita berdiri di depan lapaknya. Sontak, ia terkejut. "Ibu nyari yang setengah jadi?" tanyanya. "Iya bu, saya nyari yang setengah jadi". Wajah ceria pun langsung menghiasi wanita penjual tempe ini. "Ada bu, ada.. ibu butuh berapa banyak?", lanjutnya sambil menunjukkan tempe-tempe dagangannya. "Ibu punya tempe setengah jadi? Alhamdulillah, saya dari tadi muter-muter pasar ngga ketemu susah banget nyarinya. Kalau gitu saya beli semuanya bu."

Wanita penjual tempe terkejut, ia tidak menyangka dagangannya yang semula dikiranya tidak laku, langsung habis dalam sekejap diborong satu pembeli. "Alhamdulillah, terima kasih gusti, terima kasih", syukurnya kepada Allah Swt. Sambil membungkus semua tempe setengah jadi itu, ia mengobrol dengan pembeli tersebut. Rupanya wanita pembeli tempe adalah seorang yang bekerja di luar negeri yang sedang pulang ke Indonesia. Ia dapat banyak pesanan tempe dari teman-temannya di luar negeri. Kalau harus membeli tempe yang jadi, saat sampai tempe itu sudah busuk. Kalau beli yang setengah jadi, maka tempe bisa lebih awet dan selama perjalanan proses peragian bisa dilanjutkan agar si tempe bisa sepenuhnya menjadi tempe.

Dari komunikasi di antara mereka terjalin hubungan bisnis. Si wanita yang bekerha di luar negeri rutin menjadi konsumennya. Setiap kali pulang ke Indonesia, pasti memesan tempe ke ibu ini. Subhanallah.

Jangan pernah berputus asa, skenario Allah lebih indah dari bayangan makhluk-Nya.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Minggu, 16 Oktober 2011

Sepuluh Teka-Teki untuk Imam Syafi'i

Dikisahkan sekolompok orang ingin menguji kecerdasan Imam Syafi’I di depan Khalifah ar-Rasyid. Mereka berkumpul bersama dengan sengaja untuk melihat seberapa kecerdasan sang imam yang terkenal ini, Mereka meminta penjelasan dari sepuluh pertanyaan teka-teki yang sudah mereka susun. Namun, ternyata Imam Syafi'i mampu menjawab semua pertanyaan itu dengan keluasan ilmu dan kebijaksanaannya. Berikut pertanyaan-pertanyaan tersebut. 

1. Bagaimana pendapatmu tentang seorang yang menyembelih kambing di rumah, lalu dia pergi untuk suatu keperluan. Setelah kembali ia berkata kepada keluarganya, “Makanlah kambing ini, dia haram untukku”. Kemudian keluarganya menjawab, “Begitu juga dengan kami”.
Jawaban: Orang tersebut pasti orang musyrik. Dia menyembelih kambing dengan nama berhala. Kemudian saat dia pergi karena suatu urusan, ALLAH memberikan hidayah keimanan, lalu ia memeluk islam. Dging kambing tsb menjadi haram baginya. Setelah keluarganya tahu, mereka ikut masuk islam juga.

2.Bagaimana pendapatmu tentang orang yang lari dan meninggalkan hamba sahaya lalu berkata, “Hamba sahaya itu merdeka jika aku telah makan makanan hingga menemukannya kembali”. Bagaimana solusinya?
Jawaban: hamba sahaya tersebut diberikan kepada anak-anaknya lalu dia pergi makan. Kemudian dia meminta kembali hamba sahayanya.

3.Dua orang muslim berakal dan merdeka minum khamar. Salah satunya dihukum, yang satunya tidak.
Jawaban: salah satunya baligh dan yang lain masih kecil.

4. Dua orang wanita bertemu dengan dua orang pemuda. Keduanya berkata, “selamat datang kedua anak, kedua suami dan kedua anak tiri kami.”
Jawaban: Kedua pemuda tsb adalah anak dari kedua wanita. Masing-masing menikah dengan anak temannya. Jadi, kedua pemuda tadi adalah dua anak, dua suami, dan dua anak tiri kedua wanita itu.

5.Seorang lelaki mengambil gayung air untuk diminum. Dia meminumnya setengah karena halal dan mengharamkan sisanya.
Jawaban: Orang tersebut minum air dari gayung tersebut. Tapi saat dia baru meminum setengahnya, hidungnya mengeluarkan darah hitam dan bercampurd engan air. Jadi sisa airnya menjadi haram.

6. Lima orang laki-laki berzina dengan seorang wanita. Laki-laki pertama harus dibunuh. Lelaki kedua harus dirajam. Lelaki ketiga dicambuk. Lelaki keempat setengah had. Dan lelaki kelima tidak dihukum apa-apa.
Jawaban: orang pertama menganggap zina halal (ia dihukum mati karena murtad), orang kedua sudah menikah, orang ketiga laki-laki yang tidak suci, dan orang keempat hamba sahaya, dan yang kelima adalahadalah orang gila.

7. Seorang lelaki melaksanakan shalat. Usai salam ke arah kanan, istrinya ditalak. Usai salam ke kiri, shalatnya batal. Ketika melihat ke atas, di harus membayar seribu dirham.
Jawaban: ketika mengucapkan salam ke kanan, ia melihat seorang laki-laki yang istrinya telah dia nikahi. Saat mengetahui suami pertama itu datang, dia langsung menalak istrinya. Saat ia salam ke kiri ia melihat ada najis menempel di bajunya, jadi shalatnya batal. Saat menegnok ke atas dia melihat bulan. Dia mempunyai hutang seribu dirham yang harus dibayar di awal bulan (bentuk bulan yang di lihat saat itu menandakan awal bulan)

8. Seorang imam shalat bersama empat makmum di masjid. Tiba-tiba seorang lelaki datang dan shalat di kanan iman. Ketika mengucap salam ke arah kanan dan melihat laki-laki tsb, sang imam harus dibunuh, sementara empat makmunya harus dijilid dan masjidnya harus dirobohkan.
Jawaban: laki-laki tsb mempunyai istri yang dia tinggalkan di rumah saudaranya. Sang imam telah membunuh saudaranya tsb lantaran  disangka bahwa dia adalah suaminya. Sang imam kemudian menikahi wanita itu disaksikan empat makmumnya. Sementara masjdi itu merupakan rumah laki-laki yang dibunuh dan menjadi masjid.

9. Seorang suami  memberikan kepada istrinya sebuah kantong berisi penuh dan terkunci. Dia berpesan pada istrinya agar mengeluarkan isi kantong tanpa membuka, merobek, merusak atau membakar bagian kantong yang terkunci. Jika melanggarnya si istri akan ditalak. Bagaimana melaksanakan perintah suami tsb.
Jawaban: kantong tsb berisi gula atau garam. Jadi sang istri hanya perlu mencelupkannya dalam air agar larut.

10. Ada dua orang laki-laki dan wanita dua anak di jalan. Kemudian ada orang yang mendatangi mereka. Ketika keduanya ditanya kenapa? Sang laki-laki menjawab, “Ayahku adalah kakek mereka, saudara ku adalah paman mereka, istriku adalah istri mereka”. Sementara sang istri berkata ”ibuku adalah nenek mereka dan saudara perempuankau adalah bubi mereka”.
Jawaban: laki-laki tersebut adalah ayah mereka dan wanita tersebut adalah ibu mereka.



***

keren ya jawaban-jawabannya... 

Gairah Pencari Ilmu (Kisah Imam Syafi'i)

Suatu hari, Imam Syafi'i yang berusia tujuh tahun atau lebih, pernah belajar dengan imam Malik di kota Madinah. Imam Malik mengajarkan hadist NAbi di masjid tersebut. Seperti biasa, imam Malik selalu menyebutkan sanad hadist. Saat sedang mengajar tersebut, sang imam melihat tangan Syafi'i memainkan secarik alas setelah membasahinya dengan air liur. Beliau sangat kecewa. Beliau menunggu sampai menyelesaikan pelajaran membaca empat puluh hadist. Kemudian Imam memanggil Syafi'i kecil untuk menghadap dan mendapat sedikit teguran dari sang Imam.
"kenapa kamu bermain-main saat hadist Rasulullah?", tanya Imam MAlik
"Syeikh, aku tidak bermain-main. Aku hanya mencatat dengan air liurku biar aku tidak lupa karena aku adalah anak fakir yang tidak punya dirham untuk membeli kertas dan pena", jawab Syafi'i kecil.
Setelah mendengar jawaban Syafi'i sang Imam berkata,"jika benar, bacakan aku hadist Nabi dari empat puuluh hadist yang kubacakan saat pelajaran hari ini."

Syafi'i kecil pun dapat menjawab tantangan gurunya secara detail bahkan dengan mencontohkan gaya atau gerak-gerik gurunya (Imam Malik) tersebut saat menyampaikan pelajaran.

dikutip dari buku Takut Hanya kepada ALLAH, oleh: DR. Mustafa Murad.

Kisah Yusuf Estes, mualaf yang kini menjadi da'i di Amerika Serikat

Yusuf Estes, (lahir pada 1944) merupakan warga negara Amerika Serikat yang memeluk islam pada tahun  1991. Dia pernah menjadi delegasi muslim di Konferensi Perdamaian Dunia yang diselenggarakan PBB, September 2000 (United Nations World Peace Conference for Religious Leaders). Sebelum masuk islam dia bekerja sebagai musisi di gereja, penginjil, sekaligus mengelola bisnis alat musik piano dan organ hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang pengusaha Mesir bernama Muhammad Abdul Rahim untuk menjalin bisnis. Awalnya, ia berniat mengkristenkan mitra usahanya ini, tetapi yang terjadi malah ia, istri, ayah, mertua, dan temannya mengislamkan diri. Ia aktif mempelajari islam, menguasai bahasa arab dan ilmu Al-Quran selepas belajar di Mesir, Maroko, dan Turki. Kemudian dia menjadi aktivis di berbagai kegiatan dakwah, di antaranya menjadi imam tetap di markas militer AS di Texas dan dai di penjara sejak tahun1994. Sejak tahun 2006 dia sering tampil sebagai pembicara pada program televisi, seperti PeaceTV, Huda TV, demikian pula IslamChannel yang bermarkas di Inggris. Ia juga tampil dalam serial televisi Islam untuk anak-anak bertajuk “Qasas Ul Anbiya” yang bercerita tentang kisah-kisah para Nabi. Di bawah ini adalah kisah Syekh Yusuf sebagaimana dituturkannya di situs www.islamtomorrow.com.

***



Nama saya Yusuf Estes. Saat ini dipercaya memimpin sebuah organisasi bagi Muslim asli Amerika. Kini sepanjang hidup saya berikan untuk Islam. Saya berkeliling dunia untuk memberikan ceramah dan berbagi pengalaman bagaimana Islam hadir dalam diri saya. Organisasi kami terbuka untuk berdialog dengan berbagai kalangan. Misalnya para pemuka agama seperti pendeta, rabi (ulama kaum Yahudi-red) dan lainnya di mana pun mereka berada.
Kebanyakan medan kerja kami adalah kawasan institusional seperti pusat militer, universitas, hingga penjara. Tujuan utama adalah untuk menunjukkan Islam yang sebenarnya dan memperkenalkan bagaimana hidup sebagai seorang Muslim. Meskipun Islam saat ini berkembang sebagai salah satu agama terbesar kedua setelah Kristen, namun masih banyak saja terjadi kesalahpahaman tentang Islam. Misalnya Islam selalu diidentikkan dengan hal berbau Arab.
Banyak orang bertanya pada saya bagaimana mungkin seorang pendeta atau pastur Kristen bisa masuk Islam, padahal tiap hari kami menyampaikan kebenaran Kristen. Belum lagi dengan berita-berita negatif tentang perilaku buruk Islam di media. Pasti tidak ada orang yang tertarik dengan Islam. Pernah seorang pria Kristen bertanya pada saya melalui e-mail, "Kenapa dan bagaimana saya meninggalkan Kristen dan masuk Islam?". Saya berterima kasih pada semua yang bersedia mendengar kisah saya berikut ini. Semoga Allah ridha.

Keluarga Kristen taat
Saya lahir di Ohio, besar dan bersekolah di Texas. Dalam tubuh saya mengalir darah Amerika, Irlandia, dan Jerman hingga sering disebut WASP (white anglo saxon protestant). Keluarga kami adalah penganut Kristen yang sangat taat. Tahun 1949, ketika masih di bangku SD kami pindah ke Houston, Texas. Saya dan keluarga sering hadir secara rutin ke gereja. Malah saya dibaptis pada usia 12 tahun di Pasadena, masih Texas.
Sebagai seorang remaja, saya punya keinginan untuk bisa berkunjung ke banyak gereja di berbagai tempat guna menambah pengalaman dan pengetahuan Kristen. Kala itu saya benar-benar haus untuk mempelajari ajaran Kristen. Tidak hanya ajaran Kristen, bahkan ajaran Hindu, Budha, Yahudi, hingga Metafisika juga saya pelajari. Hanya satu ajaran yang saya tidak begitu serius dan bahkan tidak menaruh perhatian sama sekali, yakni Islam.
Saya suka musik terutama klasik. Hingga saya sering dapat undangan menyanyi di berbagai gereja. Di kisaran tahun 1960-an saya mengajar musik dan tahun 1963 punya studio sendiri di Laurel, Maryland yang saya beri nama “Estes Music Studios.” Hingga tahun 1990 atau hampir 30 tahun lamanya saya bersama dengan ayah mengelola bisnis entertainment. Kami juga punya toko alat musik piano dan organ di Texas, Oklahoma hingga Florida.
Ayah dulu pernah aktif dalam aneka kegiatan gereja. Dari sekolah minggu hingga aktifitas penggalangan dana bagi pengembangan sekolah Kristen. Dia sangat menguasai Bibel dan juga terjemahannya. Melalui ayah pula saya belajar Bibel dalam berbagai versi dan terjemahan.
Ayah saya, seperti kebanyakan pendeta lainnya, selalu mendapat pertanyaan, Apakah Tuhan yang menulis Bibel?” Biasanya jawabannya adalah: “Bibel adalah rangkaian kata inspirasi seorang lelaki yang berasal dari Tuhan.” Itu bermakna, menurut saya, manusialah yang menulis Bibel. Tentu saja, selama bertahun-tahun, jawaban itu menimbulkan banyak tanggapan bahkan penolakan. Namun ayah selalu menambahkan,”Akan tetapi (Bibel) itu tetap kata dari Tuhan yang diilhamkan kepada manusia.” Begitulah.

Mencari Tuhan
Beranjak dewasa dan memiliki usaha sendiri, akhirnya saya “menyerah”. Saya tidak mungkin jadi seorang pendeta. Saya takut bermental hipokrit. Saya belum bisa menerima tentang konsep Tuhan itu satu namun pada saat yang sama Dia menjadi “Tiga” atau Trinitas. Saya selalu bertanya-tanya, jika Dia “Tuhan Bapa” bagaimana mungkin pada saat yang sama juga menjadi “Anak Tuhan?”
Selama bertahun-tahun saya mencoba mencari Tuhan dengan berbagai cara. Saya pelajari dan cek dalam agama Budha, Hindu Metafisika, Taoisme, Yahudi dan banyak lagi. Bertahun-tahun saya pelajari hingga mendekati usia ke-50 saya belum menemukan siapa Tuhan yang sebenarnya. Lalu saya mencoba bergaul dengan banyak kalangan, termasuk dengan para evangelis dan penginjil yang punya pengalaman di berbagai tempat dan negara. Kami sering melakukan perjalanan jauh. Namun tidak ada jawaban yang memuaskan. Tidak ada yang mau menjawab siapa yang menulis Bibel sebenarnya, kenapa Bibel banyak versi padahal bukunya sama, kenapa banyak sekali terdapat kesalahan versi terkini dengan versi terdahulu. Dan, bahkan, dalam berbagai versi Bibel, saya tidak menemukan satupun kata “Trinitas.”
Kolega saya akhirnya tidak mampu meyakinkan saya. Mereka lelah mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan-pertanyaan “nyeleneh” tersebut. Sampai akhirnya datanglah satu kejadian yang merupakan awal perjumpaan saya dengan Islam. Kejadian yang akhirnya meruntuhkan semua konsep-konsep dan keyakinan-keyakinan yang telah membebani saya selama bertahun-tahun. Solusi dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya datang justru dengan cara, yang menurut saya, aneh dan ganjil.

Jumpa pria Mesir
Ceritanya, awal 1991 ayah mencoba menjalin bisnis dengan seorang pengusaha dari Mesir. Ia meminta saya untuk bertemu dengan pria Mesir itu. Bagi saya inilah kali pertama mengadakan kontak bisnis internasional. Yang saya tahu tentang Mesir adalah piramid, patung Sphinx, dan sungai Nil. Hanya itu. Lalu ayah menyebut bahwa pria itu seorang Muslim.
Apa? Islam? Saya tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Menjalin hubungan dengan orang Islam? Spontan batin saya menolak. Tidak, no way! Saya mengingatkan ayah agar membatalkan kontak dengan pria itu dengan menyebut hal-hal negatif tentang orang Islam. Orang Islam teroris, pembajak, penculik, pengebom, dan entah apa lagi. Saya sebut juga mereka (orang Islam) tidak percaya dengan Tuhan, tiap hari kerjanya mencium tanah lima kali sehari, dan menyembah kotak hitam di tengah padang pasir (maksudnya Ka’bah-red.). Tidak! Saya tidak mau jumpa orang itu.
Ayah tetap mendesak. Ia menyebut orang itu sangat ramah dan baik hati. Akhirnya saya menyerah dan bersedia bertemu dengan pengusaha Islam tersebut. Tapi untuk pertemuan tersebut saya buat semacam “aturan” khusus. Antara lain; saya mau bertemu dengannya pada hari Minggu setelah kegiatan di gereja, sehingga punya “kekuatan” kala bertemu nanti. Saya musti bawa Bibel, pakai baju jubah dan peci ala gereja bertuliskan “Yesus Tuhan Kami.” Istri dan kedua anak perempuan saya juga harus datang di saat pertemuan pertamakali dengan orang Islam itu.
Tibalah hari H. Ketika saya masuk toko, langsung saya tanya pada ayah mana orang Islam itu. Ayah menunjuk seorang laki-laki di dekatnya. Mendadak saya dilanda kebingungan. Ah sepertinya pria itu bukan si Islam yang dimaksud. Hati saya membatin. Penampilannya tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Laki-laki asal Mesir itu tidak berjanggut, bahkan tidak punya rambut sama sekali alias botak. Ia tidak bersorban dan tidak pula berjubah. Malah pakai jas.
Spontan saya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Mengamati orang-orang yang hadir. Saya mencari-cari orang yang pakai jubah dengan surban melilit di kepalanya, berjenggot lebat serta alis mata tebal. Khas orang Arab. Namun tidak ada seorangpun yang memenuhi kriteria saya. Yang lebih mengejutkan, pria itu malah menegur saya dengan sangat ramah. Ia menyambut dan menjabat tangan saya dengan hangat. Namun saya tidak terkesan dengan tingkahnya itu. Hanya ada satu pikiran, yakni bagaimana meng-Kristenkan pria Mesir itu.
Interogasi
Selepas perkenalan singkat, saya pun mulai “menginterogasi” pria Mesir tersebut. Anda percaya dengan Tuhan? tanya saya mengawali. Pria itu menjawab ya. Saya mencocornya lagi dengan rentetan pertanyaan lain seperti keyakinan Islam kepada Nabi Adam, Ibrahim. Musa, Daud, Sulaiman hingga Isa Al-Masih. Saya dibuat terpana kala mendengar jawabannya. Ia menjelaskan Islam percaya dengan Nabi-Nabi yang saya sebut tadi. Bahkan makin ternganga kala diberitahu Islam juga beriman dengan salah satu Kitab Allah yakni Injil dan Nabi Isa adalah salah satu utusan-Nya. Fantastik!
Yang bikin saya syok adalah tatkala mengetahui ternyata Islam juga percaya dengan Almasih (baca: Nabi Isa). Dalam Islam ternyata Isa diimani; sebagai utusan Tuhan dan bukan Tuhan, lahir tanpa seorang ayah, ibunya adalah Maryam. Ini sudah lebih dari cukup bagi saya untuk mempelajari Islam lebih lanjut. Ah padahal sebelumnya saya sangat benci dengan Islam. Kini saya harus mempelajarinya? Bagaimana mungkin?
Akhirnya kami jadi sering bertemu dan berdiskusi terutama tentang keimanan. Pria ini sangat lain. Ramah, kalem, dan terkesan pemalu. Ia mendengar dengan serius setiap kata-kata saya dan tidak menyela sedikitpun. Lama kelamaan saya jadi menyukai pria itu. Namun waktu itu yang masih terpikir oleh saya adalah mencari cara untuk mengajaknya masuk Kristen. Orang ini sangat potensial menurut saya.

ImageMenjadi mitra bisnis
Saya akhirnya setuju untuk menjalin bisnis dengan pengusaha Mesir itu. Kami sering mengadakan perjalanan bisnis di sepanjang kawasan Utara Texas. Sepanjang hari kami justru banyak berdiskusi hal keyakinan Islam dan Kristen ketimbang masalah bisnis. Kami bicara tentang konsep Tuhan, arti hidup, maksud penciptaan manusia dan alam serta isinya, tentang Nabi, dan banyak lainnya lagi.
Satu ketika saya dapat kabar Muhammad bermaksud pindah rumah. Selama ini ia tinggal bersama dengan seorang temannya. Ia berencana untuk tinggal di mesjid selama beberapa waktu. Saya dan ayah mengajaknya tinggal di rumah kami saja. Ia pun setuju.
Satu ketika salah seorang teman saya –seorang pendeta- mengalami serangan jantung. Kami membawanya ke rumah sakit terdekat dan tinggal beberapa saat disana. Saya pun musti menjenguknya beberapa kali dalam seminggu. Muhammad sering saya ajak serta. Rupanya teman saya itu tidak begitu suka. Bahkan ia dengan nyata menolak berdiskusi apapun tentang Islam. Hingga satu hari datang pasien baru. Seorang pria yang kemudian tinggal satu kamar di rumah sakit dengan teman saya. Ia menggunakan kursi roda. Saya berkenalan dengan pria itu. Sekilas tampaknya pria itu seperti sedang depresi berat

Pria di kursi roda mencari Tuhan
Akhirnya saya tahu pria itu kesepian dan depresi berat serta butuh teman dalam hidupnya. Jadilah saya mencoba mengingatkan dia tentang Tuhan. Saya kisahkan tentang Nabi Yunus yang hidup dalam perut ikan. Sendirian dalam gelap namun masih ada Tuhan bersamanya.
Selepas mendengar kisah itu, pria berkursi roda itu mendongakkan kepalanya seraya meminta maaf. Ia menceritakan bahwa ada sedikit masalah yang melandanya. Selanjutnya ia ia ingin mengakuinya kesalahannya itu di hadapan saya. Saya berujar bahwa saya bukan seorang pendeta. Pria itu justru menjawab; “Sebenarnya saya dulu seorang pendeta.”
“Apa? Saya barusan menceramahi seorang pendeta ? Saya benar-benar syok kala itu. Kenapa jadi begini? Apa yang terjadi dengan dunia ini sebenarnya?
Rupanya pendeta itu –namanya Peter Jacobs- adalah mantan misionaris yang telah berkeliling Amerika Latin dan Meksiko selama 12 tahun. Kini ia malah depresi dan butuh istirahat. Saya menawarkannya untuk tinggal di rumah kami. Dalam perjalanan ke rumah, saya berdiskusi dengan Peter tentang Islam. Saya sungguh terkejut kala diberitahu para pendeta Kristen juga belajar tentang Islam dan bahkan sebagiannya ada yang doktor di bidang itu. Ini hal baru bagi saya tentunya.
Sejak itu, Muhammad, Peter dan saya sering terlibat diskusi hingga larut malam. Satu ketika masuk ke masalah kitab-kitab suci. Saya takjub kala Muhammad menceritakan bahwa dari pertama diturunkan hingga saat ini atau selama 1400 tahun Al-Quran hanya ada satu versi. Al-Quran dihafal oleh jutaan Muslim di seluruh dunia dengan satu bahasa yaitu Arab. Sungguh mustahil. Bagaimana mungkin kitab suci kami bisa berubah-ubah dengan berbagai versi sementara Al-Quran tetap terpelihara?

Sang pendeta masuk Islam!
Satu hari pendeta Peter Jacobs ingin melihat apa yang dilakukan orang Islam di Mesjid. Ia pun ikut Muhammad. Sepulang dari sana saya bertanya pada Peter ada kegiatan apa di sana. Peter menyebut tidak ada acara apa-apa di mesjid. Mereka (orang Islam) cuma datang dan shalat saja. Tidak ada acara seremoni apapun. Apa? tidak ada ceramah atau nyanyian apapun?
Beberapa hari kemudian Peter minta ikut lagi ke mesjid. Namun kali ini lain. Mereka tidak pulang-pulang hingga larut malam. Saya khawatir sesuatu terjadi terhadap mereka. Akhirnya Muhammad kembali dengan seorang pria berjubah. Saya sungguh terkejut dengan laki-laki yang datang bersama Muhammad itu. Ia mengenakan jubah dan topi putih. Ah rupanya si Peter. Ada apa dengan kamu tanya saya. Jawaban Peter bak petir di siang bolong. Ia menyebut sudah bersyahadah. Oh Tuhan! Apa yang terjadi? Pendeta masuk Islam?
Saya benar-benar syok dan semalaman tidak bisa tidur memikirkan hal itu. Saya ceritakan kejadian tersebut kepada istri. Istri saya justru menyatakan ia juga ingin masuk Islam, karena itulah yang benar. Oh Tuhan! Saya benar-benar tidak percaya.
Saya turun ke bawah dan membangunkan Muhammad seraya minta waktu diskusi dengannya. Sepanjang malam hingga subuh kami bertukar pendapat. Muhammad minta izin shalat Subuh. Ketika itu saya mendapat firasat, kebenaran telah datang. Saya harus membuat pilihan. Lalu saya keluar rumah. Persis di belakang rumah, saya memungut sepotong papan. Lalu saya letakkan papan itu menghadap ke arah orang Islam shalat. Saya pun bersujud menghadap kiblat dan meminta petunjuk-Nya.

ImageSekeluarga masuk Islam
Pagi itu, pukul 11, saya bersyahadah di hadapan dua orang saksi, mantan pendeta Peter Jacobs dan Muhammad Abd. Rahman. Alhamdulillah, di usia ke-47 saya jadi seorang Muslim. Beberapa menit kemudian istri saya juga ikut bersyahadah. Ayah baru memeluk Islam beberapa bulan kemudian. Sejak itu saya dan ayah sering ke mesjid terdekat di kota kami. Ayah mertua saya akhirnya juga mengikuti kami. Di usianya yang ke-86 ia memeluk Islam. Mertua saya meninggal persis beberapa bulan selepas bersyahadah. Semoga Allah ampuni dia. Amiin.
Adapun anak-anak saya pindahkan dari sekolah Kristen ke sekolah Islam. Setelah sepuluh tahun bersyahadah, mereka telah mampu menghafal beberapa juz Al-Quran.
Sejak itu saya habiskan waktu hanya untuk Islam. Saya berdakwah ke mana-mana, hingga ke luar Amerika. Banyak sudah yang memeluk Islam. Baik dari kalangan birokrat, guru, dan pelajar dari berbagai agama. Dari Hindu, Katolik, Protestan, Yahudi, Rusia Orthodok, hingga Atheis. Saat ini saya juga mengelola sebuah website yakni Islamalways.com yang punya motto terkenal, ” where we’re always open 24 hours a day and always plenty of free parking.” (kami buka 24 jam sehari dan banyak tempat parkir gratis).
Islam telah mengubah cara saya melihat kehidupan ini dengan lebih bermakna. Semoga Allah pelihara hidayah yang sudah ada pada kita dan sebarkan hidayah itu ke seluruh alam. Amin.