Ini adalah insiden yang terjadi pada hampir sepertiga malam tadi. Peristiwa yang tidak akan aku lupakan dan menjadi pelajaran.Semoga tidak akan terulang. Aku tidak akan banyak bermain-main lagi dengan yang bernama Internet, cukup seperlunya dan harus berasaskan manfaat. Bismillah, semoga aku selalu bisa menjaga niat ini.
***
Pukul 02.40 aku terbangun karena perut terasa melilit. Semakin lama terasa semakin sakit, seperti diremas. Semalam emang makan sambel kebanyakan, jadi begini deh. Bergegas aku menuju kamar mandi untuk meredakan sakit peut ini. Alhamdulillah, memang obat alami sakit perut ya ke toilet. Sakit perutku sudah berkurang, walau masih sakit. hehhehhee.
Selesai keperluan, aku langsung saja mengambil wudhu, niat shalat tahajud. Tapi perut masih berasa ngga enak. Aku terpaksa mengambil adegan ngambil wudhu berkali-kali karena batal oleh buang angin ( :p ). Capek juga sih, mau shalat jadi ngga mulai-mulai. Sambil meremas-remas perut yang sebenarnya sudah kosong tapi masih sakit ini, tiba-tiba terbesit untuk buka netbook. Aku menyalakan netbook dan mulai menjelajah internet. Buka fb, eh ada satu post wall dari temen yang berisi satu link aneh, gambarnya juga aneh (cewe pake baju seksi). Aku heran aja. Temenku ini jarang nulis atau ngirim post, lagipula dia baik kok orangnya. Karena fokus dengan perut yang masih sakit, aku main klik aja link itu. Pas dibuka, Alhamdulillah ngga ada gambar yang jorok. Cuma ada gambar kerumunan orang dan tulisan "anda berhak menang" (dalam bahasa inggris). Hadeeh... aku kira apa. fb aku tutup, netbook aku log off. Lanjut shalat tahajud.
Baru shalat dua rakaat tahajud, kok tiba-tiba kepikiran isi fb yang tadi. Langsung aja kubuka lagi fb di netbook. Pas ngeklik home, Jueeenggggggg.... Tertera aku mengirim link yang aneh itu ke beberapa wall friend padahal ngga pernah ngirim. "Ah parah, ini mah spam. kenapa ngga kepikiran tadi." Gumamku kepada diri sendiri, marah..
Lanjut, aku langsung kepikiran untuk me-deactive-kan. Dengan sedikit panik aku mulai mencari cara menonaktifkan akunku itu. Alhamdulillah, ketemu! Tapi sudah terlambat. Hampir semua teman sudah terkirim spam yang berasal dariku itu, bahkan sudah ada teman akhwat yang juga membuka dan otomatis dia pun akan menginfeksi teman-temannya yang lain. Astagfirullah, aku merasa bersalah. Bukan spam yang aku pikirin, tapi pendapat orang yang terkirim. Pastinya orang-orang yang terkirim akan berpikiran buruk terhadap si akhwat temanku ini. Allahu akbar. Kasihan dia. Walaupun pada akhirnya orang tahu itu hanya spam, tapi aku berdosa terhadap nama baik temanku ini. Harusnya tidak boleh terjadi, akhwat mengirimkan link yang dari luar tampak gambar seronok. Astagfirullah. ini salahku.
Allah ya Rahman, maafkan hamba. Teman-teman maafkan aku. Harusnya kau langsung tahajud saja, tidak tergoda membuka internet. Harusnya aku lebih berhati-hati, seberapa pun besar rasa penasaranku, terlebih jika dari luar tampak gambar yang aneh. Harusnya aku bisa menyelesaikan ibadahku. Gara-gara peristiwa ini, aku jadi hanya shalat dua rakaat tanpa witir (udah keburu azan subuh). Astagfirullah.. Aku masih merasa bersalah hingga saat ini. Maaf ya ukh...
Rabu, 09 November 2011
Jumat, 04 November 2011
Polisi Goceng
Kalau kalian melewati Melawai, daerah dekat Blok M, kalian pasti akan menemukan yang namanya "Polisi Goceng". Ya, begitulah julukan yang kuberikan kepada oknum polisi yang kerjaannya kalau malam hari begini nongkrong pake motornya di sekitar jalan Melawai terus mungutin uang lima ribu rupiah dari bis angkutan yang nakal.
***
Seperti biasa, hari ini aku pulang kerja transit di terminal Blok M, lalu melanjutkan naik metromini 69. Seperti biasa pula, kemacetan adalah hal yang tidak bisa dihindarkan di Jakarta ini, sudah semacam keharusan. Bagai sayur tanpa garam, Jakarta pun tidak akan lengkap tanpa yang namanya macet.
Baru keluar terminal, titik kemacetan pertama yang ditemui adalah di area Melawai. Dulu, kondisinya tidak seperti ini, tapi sekarang parah banget macetnya, bisa setengah jam mandek di daerah itu kalau nurutin antrean bis yang berjejer jalan satu per satu.
Kemacetan ini terjadi setelah rampungnya pembangunan mall Blok M dengan akses masuk dari jalan Melawai. Bodohnya, pemerintah ngga aware banget terhadap tata kelola pembangunan mall ini. Bayangin aja, pintu masuk dan keluar dibuat dari arah Melawai, tapi lebar jalan Melawai ngga diperluas. Namanya juga mall, pasti pengunjungnya banyak. Bis-bis angkutan umum macam metromini dan kopaja yang melintasi jalan tersebut otomatis mencari penumpang di daerah itu dengan cara nge-tem. Alhasil, jalan yang hanya muat satu baris mobil/bis itu akhirnya dipenuhi pemandangan bis-bis yang berjejer ke belakang dan bunyi klakson di mana-mana.
Metromini 69 yang kunaiki ini sudah penuh penumpang, ia tidak perlu mencari penumpang lagi. Namun, di depan bis ini ada metromini 610, 74, dan lain-lain yang masih sepi penumpang. Ada 5 bis di depan kami. Sebagian sengaja mencari penumpang, sebagian menjadi korban kemacetan seperti kami. Sekitar 10 menit, kami berada di jalan Melawai, menunggu giliran lewat. Tak tahan dengan kemacetan, akhirnya si supir metromini ini mengambil lajur kanan (arus berlawanan). Gile bener dah si pak supir. Menantang bahaya karena tidak sabar ingin segera langsung mengantar penumpangnya (hehhe lebay..). “Abis kalau ngga nakal begini kapan nyampenya., bisa sejam di sini doang” gerutu si sopir. Bener juga sih, metromini 610 yang berada paling depan di barisan terlihat asik-asik aja ngetem, ngga sadar apa yah ada banyak bis di belakangnya. Huhh.. di klaksonin juga percuma, bikin berisik aja. Bukannya protes, penumpang di metromini ini hanya diam atau bahkan malah senang dengan kelakuan nakal pak supir, termasuk aku juga sih, yang penting bisa nyampe lebih cepat.
Berhasil melewati rintangan arus berlawanan, kini metromini kami berada paling depan di barisan. Cihuyy.. let go bang… qt pulang. Eitt.. tunggu, tiba-tiba bis berhenti. Rupanya si sopir lagi ngomong sama seorang polisi yang sedang berada di motornya. Tak banyak pak spoir berkata-kata, kulihat ia langsung menjulurkan tangannya yang menggenggam sesuatu ke arah polisi itu. Pak polisi langsung dengan sigap meraih tangan si sopir dan mengambil apa yang berada di genggaman sopir.
“Ngasih berapa bang tadi?” tanya si kenek. “Biasa, goceng. Ngga kenapa-napa keluar goceng. Mending keluar segitu daripada lama di sini” jawab si sopir.
Dengan mudahnya polisi yang masih berseragam itu menerima sogokan pak sopir dan angka sogokannya pun goceng atau lima ribu rupiah. MashaAllah.. terlalu deh. Kalau dilihat angka uang itu memang tidak besar, tapi perilaku nakal yang dilakukan sopir metromini kami bukanlah satu-satunya. Pasti ada saja yang berpikiran sama dengan sopir kami, dengan sengaja menyelak jalan lalu mengikhlaskan uang lima ribu ke polisi itu. Kalau saja ada sepuluh bis, maka uang yang didapat adalah 50.000 dalam satu malam (hanya beberapa jam). Panen diut si polisi, ngga ngapa-ngapain, cuma nongkrong doang langsung dapat duit segitu. Anehnya lagi, pak polisi tidak tampak mengatur jalanan atau memaksa bis yang nge-tem agar bisa jalan segera supaya tidak menghambat yang sebelumnya, dia malah asik memungut uang denda “illegal”.
Beginilah negaraku, praktik korupsi begitu dekat dengan kehidupan masyakaratnya setiap hari. Kalau begini, kapan Indonesiaku akan bangkit maju? Hadeeehhh….
Kamis, 03 November 2011
akan segera berlalu
Desiran ombak tak seceria biasanya
nyanyian burung tak semerdu sebelumnya
hembusan angin tak lagi sesejuk kenangannya
adakah ini pertanda
harapan itu tampaknya sudah sirna
Mana ku tahu aku ini sedang tidur atau terjaga
saat ini, keduanya seolah sama saja
tak ada beda antara ratusan mil berlari dengan sejengkal melompat
Sudah, aku tak mau diganggu
bukan waktu hal mudah mengobati luka yang lalu
Biarkan aku sendiri
satu hal yang kuinginkan hanyalah memperbaiki diri
Ada banyak alasan yang menjadikan ku lemah
tapi masih lebih banyak lagi alasan yang menjadikanku kuat
Tak masalah... aku sudah terbiasa
Aku punya Dia, yang ku yakin memberiku ganti terhadap semua kecewa
yang penting aku tetap bersama-Nya dan teguh di jalan-Nya.
nyanyian burung tak semerdu sebelumnya
hembusan angin tak lagi sesejuk kenangannya
adakah ini pertanda
harapan itu tampaknya sudah sirna
Mana ku tahu aku ini sedang tidur atau terjaga
saat ini, keduanya seolah sama saja
tak ada beda antara ratusan mil berlari dengan sejengkal melompat
Sudah, aku tak mau diganggu
bukan waktu hal mudah mengobati luka yang lalu
Biarkan aku sendiri
satu hal yang kuinginkan hanyalah memperbaiki diri
Ada banyak alasan yang menjadikan ku lemah
tapi masih lebih banyak lagi alasan yang menjadikanku kuat
Tak masalah... aku sudah terbiasa
Aku punya Dia, yang ku yakin memberiku ganti terhadap semua kecewa
yang penting aku tetap bersama-Nya dan teguh di jalan-Nya.
Rabu, 02 November 2011
Pemalu atau Berani!
Di sebuah tempat makan, ada dua anak yang berbeda keluarga. Anak pertama membisikkan kepada ibunya bahwa ia mau makan dengan saos tomat, anak kedua menyampaikan pada ibunya bahwa ia ingin sedotan minum. Ibu dari anak pertama, serta merta melangkah menuju tempat saos tomat. Lalu, memberikan saos tersebut kepada anaknya. Ibu dari anak yang kedua melakukan hal yang berbeda. Ia mengatakan kepada anaknya, "Kamu tahu di mana tempat sedotan?" Si anak mengangguk. Kemudian, ibu tersebut bertanya, "Kamu berani ngambil sendiri?". "Takut bu..", jawab si anak. Lanjut si ibu, "Apa yang kamu takutkan, ibu ada di sini, kamu ambil sendiri di sana, ibu tetap ngeliatin kamu, ibu jagain supaya ngga ada yang gangguin". Anak tersebut melangkah maju meski awalnya ragu-ragu, baru tiga langkah ia menoleh ke arah ibunya. Ibunya menyemangati anaknya dengan senyuman dan anggukan kepala seraya berkata "Tenang, ibu terus ngawasin kok". Akhirnya si anak sampai ke tempat sedotan itu, tapi rupanya tempatnya terlalu tinggi. ia berlari ke arah ibunya. Si ibu berkata, "coba kamu minta tolong sama om yang pake seragam itu, Tadi kamu udah berani, sekarang pasti bisa". Si anak berlari ke arah petugas lalu meminta tolong seperti instruksi si ibu. Dengan senang hati petugas itu membantu si anak. Si anak tersenyum bangga berlari membawa sedotan ke arah ibunya.Ibunya menyambut dengan senyuman lalu berkata, "Tuh kan kamu bisa, kamu hebat.. ibu bangga".
Dari kisah ini dapat kita ambil beberapa pelajaran. Orang tua anak pertama terlihat memanjakan anaknya. Perilaku orang tua yang seperti ini yang akan membuat anak menjadi lemah. Sementara orang tua dari anak kedua dapat memanfaatkan kesempatan untuk mengasah keberanian si anak.
Lawrence E. Saphiro, Ph.D mengatakan bahwa pada dasarnya semua anak adalah pemalu. Namun, ada anak yang berubah menjadi pemberani, atau ada juga yang tetap menjadi pemalu. Hal yang membedakan mereka adalah pendekatan yang dilakukan oleh ibunya.
Dari kisah ini dapat kita ambil beberapa pelajaran. Orang tua anak pertama terlihat memanjakan anaknya. Perilaku orang tua yang seperti ini yang akan membuat anak menjadi lemah. Sementara orang tua dari anak kedua dapat memanfaatkan kesempatan untuk mengasah keberanian si anak.
Lawrence E. Saphiro, Ph.D mengatakan bahwa pada dasarnya semua anak adalah pemalu. Namun, ada anak yang berubah menjadi pemberani, atau ada juga yang tetap menjadi pemalu. Hal yang membedakan mereka adalah pendekatan yang dilakukan oleh ibunya.
Senin, 31 Oktober 2011
Bu, aku mau manjat, boleh ngga?
Setiap anak pasti suka memanjat. Arena bermain anak pasti dilengkapi
dengan sarana untuk memanjat. Ketika sarana memanjat tidak ada, anak
pasti akan memanjat apa saja yang dapat digunakannya untuk memanjat.
Pohon mangga di depan rumah, pintu gerbang, atau pun teralis jendela rumah tak
luput menjadi sarana anak untuk memanjat.
Memanjat adalah kegiatan yang menyenangkan bagi mereka, tapi tidak bagi orang tua yang merasa khawatir anaknya jatuh. Jika kita khawatir dengan keselamatannya, maka otomatis kita berteriak saat melihatnya memanjat. Kemudian dengan serta merta kita membuat peraturan "Tidak boleh memanjat". Namun, apakah aturan itu berhasil melindungi anak dan membuatnya berhenti memanjat? Jawabannya, belum tentu. Ketika kita tidak ada, ia bisa saja melakukannya lagi.
Jadi, apa yang harus kita lakukan?
Barang kali lebih efektif jika kita mengajarkan anak cara memanjat yang aman. Tuntun agar anak bisa menggunakan tangannya terlebih dahulu untuk mencari tumpuan yang kuat dan kaki mencari pijakan yang kuat. Jika naik, kaki ke pijakan di atasnya terlebih dahulu baru disusul mengangkat badan. Jika turun, tanganlah yang bergerak mencari pegangan di bawahnya lalu disusul kaki turun ke bawah mencari pijakan di bawahnya. Pastikan posisi tangan dan kaki aman dari bahaya terpeleset. Sambil memberi aba-aba, kita awasi anak ketika mempaktikannya. Setelah anak berhasil mencoba 3 sampai 5 kali, kita awasi saja dari jarak yang cukup. Dengan begitu, anak akan menikmati permainan dan lebih terampil, sedangkan orang tua dapat merasa aman tanpa harus membatasi kreativitasnya.
Kasus memanjat hanyalah satu dari sekian banyak hal yang disukai anak-anak, tetapi sering dibatasi orang tua. Kasih sayang dan perhatian bukan untuk membatasi mereka. Sebagai orang tua seharusnya kita lebih bijak dalam menerapkan aturan dan larangan. Kita semua pasti mengharapkan memiliki anak yang berani, cerdas, dan kreatif. Namun, bagaimana bisa kita mewujudkannya jika kita banyak membatasi ruangnya dalam mengasah keterampilan motorik dan sosialnya.
Contoh yang lain adalah kegiatan makan dan menggambar. Sedini mungkin, di saat anak mulai bisa menggunakan tangannya untuk makan, kita biarkan anak makan sendiri jangan terus disuapi. Hal ini bisa melatih kemandiriannya. Sayangnya, para ibu sering tidak sabar dan malas untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang terjatuh atau mengganti baju anak yang penuh noda makanan. Kalau begitu, kita hanya perlu meletakkan alas koran atau perlak di bawah tempat si anak makan dan memakaikan baju rumah yang siap kotor. Begitu pun saat si anak menggambar sendiri. Kita memfasilitasi anak untuk berkembang dan mandiri sedini mungkin agar pribadinya tidak menjadi anak yang ketergantungan (manja) dengan orang tua.
Bila ingin anak kreatif, orang tua juga harus kreatif!
Memanjat adalah kegiatan yang menyenangkan bagi mereka, tapi tidak bagi orang tua yang merasa khawatir anaknya jatuh. Jika kita khawatir dengan keselamatannya, maka otomatis kita berteriak saat melihatnya memanjat. Kemudian dengan serta merta kita membuat peraturan "Tidak boleh memanjat". Namun, apakah aturan itu berhasil melindungi anak dan membuatnya berhenti memanjat? Jawabannya, belum tentu. Ketika kita tidak ada, ia bisa saja melakukannya lagi.
Jadi, apa yang harus kita lakukan?
Barang kali lebih efektif jika kita mengajarkan anak cara memanjat yang aman. Tuntun agar anak bisa menggunakan tangannya terlebih dahulu untuk mencari tumpuan yang kuat dan kaki mencari pijakan yang kuat. Jika naik, kaki ke pijakan di atasnya terlebih dahulu baru disusul mengangkat badan. Jika turun, tanganlah yang bergerak mencari pegangan di bawahnya lalu disusul kaki turun ke bawah mencari pijakan di bawahnya. Pastikan posisi tangan dan kaki aman dari bahaya terpeleset. Sambil memberi aba-aba, kita awasi anak ketika mempaktikannya. Setelah anak berhasil mencoba 3 sampai 5 kali, kita awasi saja dari jarak yang cukup. Dengan begitu, anak akan menikmati permainan dan lebih terampil, sedangkan orang tua dapat merasa aman tanpa harus membatasi kreativitasnya.
Kasus memanjat hanyalah satu dari sekian banyak hal yang disukai anak-anak, tetapi sering dibatasi orang tua. Kasih sayang dan perhatian bukan untuk membatasi mereka. Sebagai orang tua seharusnya kita lebih bijak dalam menerapkan aturan dan larangan. Kita semua pasti mengharapkan memiliki anak yang berani, cerdas, dan kreatif. Namun, bagaimana bisa kita mewujudkannya jika kita banyak membatasi ruangnya dalam mengasah keterampilan motorik dan sosialnya.
Contoh yang lain adalah kegiatan makan dan menggambar. Sedini mungkin, di saat anak mulai bisa menggunakan tangannya untuk makan, kita biarkan anak makan sendiri jangan terus disuapi. Hal ini bisa melatih kemandiriannya. Sayangnya, para ibu sering tidak sabar dan malas untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang terjatuh atau mengganti baju anak yang penuh noda makanan. Kalau begitu, kita hanya perlu meletakkan alas koran atau perlak di bawah tempat si anak makan dan memakaikan baju rumah yang siap kotor. Begitu pun saat si anak menggambar sendiri. Kita memfasilitasi anak untuk berkembang dan mandiri sedini mungkin agar pribadinya tidak menjadi anak yang ketergantungan (manja) dengan orang tua.
Bila ingin anak kreatif, orang tua juga harus kreatif!
Sabtu, 29 Oktober 2011
Tempe Setengah Jadi
Diceritakan ada seorang janda produsen sekaligus penjual tempe. Wanita ini memiliki dua orang anak yang masih sekolah. Untuk menghidupi keluarganya, wanita ini harus berjuang membuat tempe lalu menjualnya ke pasar.
Suatu hari, seperti biasa ia membuat tempe yang akan dibawanya ke pasar esok paginya. Namun, ada yang berbeda. Olahan kedelai tidak juga mengeras seperti biasanya. Sampai pada waktu yang biasanya, ia mengintip cetakan tempe yang berisi kedelai tersebut rupanya tidak juga jadi sepenuhnya, hanya setengah jadi. "Duh, kok tumben lembek gini. Kalau sampai ngga jadi gimana bisa aku jual ke pasar?", tanyanya dalam hati sambil berdoa agar isi di cetakan ini bisa mengeras menjadi tempe yang sebenarnya. Wanita ini memutuskan untuk menunggu dan tetap berharap semua berjalan lancar.
Setelah sekian lama, ia kembali ke tempat cetakan tempe. Diintipnya isi cetakan itu. Raut kebingungan kembali tampak di wajah janda ini, harapannya tidak terkabul. Ia belum putus asa, ia putuskan kembali menunggu sambil berdoa kepada Allah. Selama ia menunggu, pikirannya disibukkan dengan berbagai hal, terutama nasib keluarganya. Ia hanya produsen dan penjual kecil. Hasil penjualan tempe akan ia gunakan untuk keperluan sehari-hari dan modal membuat tempe di keesokan harinya. Jika sampai ia gagal membuat tempe kali ini, entah dari mana ia bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dan modal usaha kecilnya itu. Tapi segera ia tersadar dari lamunannya. Ia tahu bahwa ia hanya bisa berusaha, sedangkan yang menentukan hasilnya adalah Allah Swt, manusia mampu berikhtiar tapi juga harus bertawakal.
Setelah beberapa kali mengintip dan menyadari tidak ada perubahan pada isi cetakan tempe. Wanita ini memutuskan untuk tetap membawa tempe setengah jadi ini ke pasar. Ini adalah usaha terakhir yang bisa ia lakukan. Dengan langkah yang berat ia membawa produk tempenya ke pasar. Di sana sudah ramai dengan berbagai penjual dan pembeli. Ia pun mulai menggelar dagangannya. Setiap kali ada orang yang ingin membeli tempenya, dengan jujur ia mengatakan bahwa tempenya setengah jadi, dan si calon pembelinya pun akhirnya mengurungkan niat untuk membeli. "Mana ada orang yang mau membeli tempe setangah jadi?", gumamnya sambil menghela napas. Dalam hati, ia terus memanjatkan doa barang kali ada keajaiban.
"Bu, saya mau beli tempe. Ada ngga yang setengah jadi?", seorang wanita berdiri di depan lapaknya. Sontak, ia terkejut. "Ibu nyari yang setengah jadi?" tanyanya. "Iya bu, saya nyari yang setengah jadi". Wajah ceria pun langsung menghiasi wanita penjual tempe ini. "Ada bu, ada.. ibu butuh berapa banyak?", lanjutnya sambil menunjukkan tempe-tempe dagangannya. "Ibu punya tempe setengah jadi? Alhamdulillah, saya dari tadi muter-muter pasar ngga ketemu susah banget nyarinya. Kalau gitu saya beli semuanya bu."
Wanita penjual tempe terkejut, ia tidak menyangka dagangannya yang semula dikiranya tidak laku, langsung habis dalam sekejap diborong satu pembeli. "Alhamdulillah, terima kasih gusti, terima kasih", syukurnya kepada Allah Swt. Sambil membungkus semua tempe setengah jadi itu, ia mengobrol dengan pembeli tersebut. Rupanya wanita pembeli tempe adalah seorang yang bekerja di luar negeri yang sedang pulang ke Indonesia. Ia dapat banyak pesanan tempe dari teman-temannya di luar negeri. Kalau harus membeli tempe yang jadi, saat sampai tempe itu sudah busuk. Kalau beli yang setengah jadi, maka tempe bisa lebih awet dan selama perjalanan proses peragian bisa dilanjutkan agar si tempe bisa sepenuhnya menjadi tempe.
Dari komunikasi di antara mereka terjalin hubungan bisnis. Si wanita yang bekerha di luar negeri rutin menjadi konsumennya. Setiap kali pulang ke Indonesia, pasti memesan tempe ke ibu ini. Subhanallah.
Jangan pernah berputus asa, skenario Allah lebih indah dari bayangan makhluk-Nya.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Suatu hari, seperti biasa ia membuat tempe yang akan dibawanya ke pasar esok paginya. Namun, ada yang berbeda. Olahan kedelai tidak juga mengeras seperti biasanya. Sampai pada waktu yang biasanya, ia mengintip cetakan tempe yang berisi kedelai tersebut rupanya tidak juga jadi sepenuhnya, hanya setengah jadi. "Duh, kok tumben lembek gini. Kalau sampai ngga jadi gimana bisa aku jual ke pasar?", tanyanya dalam hati sambil berdoa agar isi di cetakan ini bisa mengeras menjadi tempe yang sebenarnya. Wanita ini memutuskan untuk menunggu dan tetap berharap semua berjalan lancar.
Setelah sekian lama, ia kembali ke tempat cetakan tempe. Diintipnya isi cetakan itu. Raut kebingungan kembali tampak di wajah janda ini, harapannya tidak terkabul. Ia belum putus asa, ia putuskan kembali menunggu sambil berdoa kepada Allah. Selama ia menunggu, pikirannya disibukkan dengan berbagai hal, terutama nasib keluarganya. Ia hanya produsen dan penjual kecil. Hasil penjualan tempe akan ia gunakan untuk keperluan sehari-hari dan modal membuat tempe di keesokan harinya. Jika sampai ia gagal membuat tempe kali ini, entah dari mana ia bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dan modal usaha kecilnya itu. Tapi segera ia tersadar dari lamunannya. Ia tahu bahwa ia hanya bisa berusaha, sedangkan yang menentukan hasilnya adalah Allah Swt, manusia mampu berikhtiar tapi juga harus bertawakal.
Setelah beberapa kali mengintip dan menyadari tidak ada perubahan pada isi cetakan tempe. Wanita ini memutuskan untuk tetap membawa tempe setengah jadi ini ke pasar. Ini adalah usaha terakhir yang bisa ia lakukan. Dengan langkah yang berat ia membawa produk tempenya ke pasar. Di sana sudah ramai dengan berbagai penjual dan pembeli. Ia pun mulai menggelar dagangannya. Setiap kali ada orang yang ingin membeli tempenya, dengan jujur ia mengatakan bahwa tempenya setengah jadi, dan si calon pembelinya pun akhirnya mengurungkan niat untuk membeli. "Mana ada orang yang mau membeli tempe setangah jadi?", gumamnya sambil menghela napas. Dalam hati, ia terus memanjatkan doa barang kali ada keajaiban.
"Bu, saya mau beli tempe. Ada ngga yang setengah jadi?", seorang wanita berdiri di depan lapaknya. Sontak, ia terkejut. "Ibu nyari yang setengah jadi?" tanyanya. "Iya bu, saya nyari yang setengah jadi". Wajah ceria pun langsung menghiasi wanita penjual tempe ini. "Ada bu, ada.. ibu butuh berapa banyak?", lanjutnya sambil menunjukkan tempe-tempe dagangannya. "Ibu punya tempe setengah jadi? Alhamdulillah, saya dari tadi muter-muter pasar ngga ketemu susah banget nyarinya. Kalau gitu saya beli semuanya bu."
Wanita penjual tempe terkejut, ia tidak menyangka dagangannya yang semula dikiranya tidak laku, langsung habis dalam sekejap diborong satu pembeli. "Alhamdulillah, terima kasih gusti, terima kasih", syukurnya kepada Allah Swt. Sambil membungkus semua tempe setengah jadi itu, ia mengobrol dengan pembeli tersebut. Rupanya wanita pembeli tempe adalah seorang yang bekerja di luar negeri yang sedang pulang ke Indonesia. Ia dapat banyak pesanan tempe dari teman-temannya di luar negeri. Kalau harus membeli tempe yang jadi, saat sampai tempe itu sudah busuk. Kalau beli yang setengah jadi, maka tempe bisa lebih awet dan selama perjalanan proses peragian bisa dilanjutkan agar si tempe bisa sepenuhnya menjadi tempe.
Dari komunikasi di antara mereka terjalin hubungan bisnis. Si wanita yang bekerha di luar negeri rutin menjadi konsumennya. Setiap kali pulang ke Indonesia, pasti memesan tempe ke ibu ini. Subhanallah.
Jangan pernah berputus asa, skenario Allah lebih indah dari bayangan makhluk-Nya.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Jumat, 28 Oktober 2011
Teknik Mendisiplinkan Anak
Kita semua pasti mengharapakan anak kita menjadi anak yang
penurut atau mengikuti semua aturan yang dibuat. Namun ternyata membuat anak
menjadi disiplin bukanlah merupakan hal mudah. Kita sering tertipu dengan cara yang
kurang sesuai, sehingga hanya bisa mendisiplinkan anak di satu waktu tertentu,
tapi tidak di waktu yang lain. Contohnya saja ketika saya melihat teman saya
yang menerapkan aturan kepada anak-anaknya untuk selalu tidur siang jam 13.00,
saat ada tamu orang tuanya, si anak memanfaatkan kesempatan tersebut. Dia tidak
tidur siang dan malah sengaja bermain dengan teman-temannya karena dia tahu
ibunya tidak akan memarahinya di depan para tamu.
William Damon mengatakan bahwa semua anak memerlukan disiplin dalam arti yang positif dan mengikat. Penerapan aturan dan disiplin yang dilakukan ditujukan untuk mengembangkan bakat alamiahnya agar maksimal. Mereka juga perlu dihadapkan pada disiplin yang tegas dan konsisten setiap kali melanggar batas aturan sosial.
William Damon mengatakan bahwa semua anak memerlukan disiplin dalam arti yang positif dan mengikat. Penerapan aturan dan disiplin yang dilakukan ditujukan untuk mengembangkan bakat alamiahnya agar maksimal. Mereka juga perlu dihadapkan pada disiplin yang tegas dan konsisten setiap kali melanggar batas aturan sosial.
Saya jadi teringat seorang sahabat Rasulullah Saw., yang
bernama Zubair bin Awwam. Ibunya
bernama Shafiyah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah Saw. Beliau terkenal
dengan sebutan “pengawal Rasulullah”. Beliau selalu mengikuti peperangan
bersama Rasulullah Saw dan setiap malam beliau selalu siap siaga berdiri di
depan tenda Rasulullah untuk mengawasi sekitar, khawatir ada penyusup yang
masuk. Perilaku dan pribadi Zubair ra., ini bukan tanpa sebab. Beliau dari
kecil dididik ketat oleh ibunya Shafiyah ra. Bahkan, ada seorang yang berkata
kepada Shafiyah saat melihat cara wanita ini mendidik anaknya yang masih kecil,
“Wahai Shafiyah, apa yang sedang kulihat ini. Kau ini sedang mendidik anakmu
atau bukan?”. Shafiyah adalah wanita yang tegas, beliau menerapkan kedisiplinan
yang tinggi kepada anak-anaknya dan saat mendengar pertanyaan itu beliau
menjawab, “Ketahuilah bahwa aku sedang mendidik anakku, dan kau lihat saja nanti
akan jadi seperti apa dia”. Benar saja, anaknya ini tumbuh menjadi laki-laki
perkasa, pemberani, dan berjiwa besar, seorang pengawal Rasulullah, Zubair bin
Awwam.
Disiplin tidak identik dengan kekerasan. Jika kita berpikir bahwa kedua hal itu sejalan, maka kita salah besar. Disiplin berarti konsisten terhadap setiap aturan dan perkataan. Hukuman yang diberikan pada saat mendisiplinkan anak tidak selalu berupa kekerasan. Justru kekerasan hanya akan memberi bekas yang tidak menyenangkan pada anak. Kekerasan justru bukan penyelesaian masalah, bahkan menambah masalah. Rasulullah Saw, merupakan orang yang paling sedikit menerapkan hukuman dalam bentuk kekerasan. Beliau menjadi keras hanya saat berhadapan dengan orang kafir, terutama mereka yang memusuhi islam, tapi sesama muslim beliau sangat lembut apalagi sama anak-anak.Intinya, Antikekerasan bukan berarti kita menjauhi yang namanya pendisiplinan anak. Penerapan hukuman bisa dilakukan dengan berbagai cara, bergantung keputusan bersama keluarga.
Mengapa mendisiplinkan anak menjadi sulit? Ada beberapa hal yang membuat kita gagal menerapkan disiplin pada anak, yaitu sebagai berikut.
- Bagi sebagian besar orang, disiplin memiliki konotasi negatif. Disiplin berarti mengikuti aturan yang mengekang kebebasan. Hal yang perlu ditekankan kepada anak adalah bahwa kita tidak akan pernah lepas dari aturan. Aturan bukanlah suatu hal yang buruk karena kita memerlukannya. Di jalan ada aturan lalu lintas seperti di mana harus parkir, di mana menyebrang jalan, jalur mana bisa digunakan untuk mendahului kendaraan lain, dan sebagainya. Kita bisa memberikan gambaran, seperti di sekolah ada aturan jam datang, seragam sekolah, buku PR, dan lain-lain; begitu pun di rumah juga ada aturan, misalnya waktu bermain, makan, jam tidur, dan aturan-aturan saat ada tamu yang datang. Bagaimana jika tidak dilakukan? Jika kita seenaknya di jalan raya maka kita mungkin akan ditabrak atau menabrak. Jika tidak menuruti aturan sekolah, maka mungkin kita akan hukum guru, dibenci teman, atau bahkan dikeluarkan dari sekolah. Ajarkan pada anak agar bersahabat dan jangan alergi terhadap aturan.
- Disiplin menuntut kita untuk adil, padahal adil kepada semua orang itu sulit. Misalnya saja kita memiliki dua anak yang berbeda usia, yang satu remaja dan yang satu anak usia sekolah. Kita memberi kebebasan yang lebih kepada anak yang remaja untuk main ke rumah temannya. Sementara untuk anak usia sekolah kita sangat membatasi waktu dan teman bermainnya. Selain karena perbedaan tingkat perkembangan, pendekatan penerapan disiplin juga berbeda karena perbedaan karekeristik atau sifat anak. Semua ini adalah hal yang wajar namun bisa menjadi penghambat karena terkadang anak-anak tidak memahami kenapa kita memberlakukan perbedaan tersebut. Mereka menganggap bahwa orang tuanya tidak adil dalam memperlakukan mereka.
- Dalam berbagai hal kita sering menggunakan personal criteria, artinya kita mengharapkan seseorang bersepons seperti apa yang kita inginkan padahal anak hanyak seorang anak yang kadang belum memahami apa yang dipikirkan orang dewasa. Hal ini diperburuk dengan pola komunikasi yang buruk. Kita kadang menggunakan gaya komunikasi orang dewasa ke anak yang masih kecil sehingga anak tidak mengerti apa yang sedang disampaikan . Orang tua menganggap bahwa respons anak terhadap stimulus yang diberikan sangat lambat atau kurang respek.
- Disiplin berarti konsisten. Kadang kala, kita terlanjur “telalu cinta” kepada anak sehingga kita menjadi kurang objektif dalam memberikan hukuman. Terlebih lagi pada orang tua yang bekerja, karena merasa bersalah harus meninggalkan anak saat kerja. Akibatnya, saat kita harus menghukum anak, hukumannya menjadi lunak sebagai penebus rasa bersalah itu.
- Disiplin berarti bersikap tegas, yang sering kali dipersepsikan dengan “galak”. Kita tentu tidak ingin diberi label “galak” oleh anak yang kita sayangi sehingga ragu-ragu dalam menjalankan aturan.
- Ketidakkompakan ibu dan ayah. Terkadang saat ibu marah dan memberi hukuman, si ayah dengan sikap “sok bijak’-nya menghampiri si anak sambil berkata “Sudah-sudah, ini kan hal kecil, ngga usah dipermasalahkan” atau sebaliknya ibu yang melakukan ini ke ayah. Mungkin kedua pihak tidak merasakan pengaruh terhadap kejadian ini, tapi percayalah sikap ini memberi pengaruh kepada si anak. Anak menjadi kurang hormat kepada orang tua karena ia melihat sendiri ayah dan ibunya tampak meremehkan satu sama lain. Jadi, terlihat mendukung atau paling tidak “bersikap diam no comment” saat salah satu pihak memarahi anak. Apabila kita melihat istri atau suami keterlaluan memarahi anak, jangan tegur mereka di depan anak langsung. Tarik istri/suami ke kamar lalu bicarakan keluhan kita, sampaikan secara baik-baik dan cari jalan keluar bersama.
Lawrence E Shaphiro, Ph.D* memberikan beberapa teknik mendisiplinkan anak.
- Buatlah aturan dan batas yang jelas serta tegas. Lebih baik jika aturan itu ditulis dan ditempel.
- Beri peringatan atau petunjuk apabila anak mulai melakukan kesalahan. Ini cara terbaik untuk mengajari mereka cara mengendalikan diri.
- Bentuklah perilaku positif dengan mendukung setiap perilaku baik melalui pujian atau perhatian dan mengabaikan perilaku yang sengaja dilakukan untuk menarik perhatian kita.
- Didiklah anak sesuai dengan harapan kita
- Cegahlah masalah sebelum terjadi
- Apabila peraturan yang telah dinyatakan dengan jelas dilanggar, baik sengaja atau karena terpaksa langsung tanggapi dengan hukuman yang sesuai. Bersikaplah konsisten dengan apa yang kita katakan.
- Apabila hukuman tidak dapat dielakkan, pastikan bahwa hukuman itu setara dengan pelanggaran atau perilaku buruk yang dilakukan.
- Biasakan diri dengan sejumlah teknik pendisiplinan, antara lain: teguran, menyetrap, menahan hak menikmati sesuatu, koreksi berlebihan (misal, menulis ulang 10 x), dll.
Penerapan pendisiplinan tidak akan dapat dipahami anak jika orang tua tidak menerapkan pola komunikasi yang baik. Kita harus sering mengajak anak berdiskusi tentang kelakuan dan perbuatan. Jangan lupa untuk memberikan pujian dan tetap objektif dalam memberikan hukuman secara proporsional. Orang tua yang bijak adalah orang tua yang tahu hal apa saja yang pantas untuk dipantang (tahu kapan yang harus memberikan hukuman). Hukuman yang terlalu sering justru tidak akan berpengaruh bagi anak, malah akan membuatnya merasa ditentang.
Wallahu a’alam.
*Sumber: Lawrence E. Saphiro, Ph.D. 2001. Mengajarkan Emotional Intelligence pada Anak. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Langganan:
Postingan (Atom)