aku punya obsesi
aku punya mimpi
aku punya cita
aku tak berobsesi gelimang harta
aku tak bermimpi menjadi istri para raja
citaku sederhana, namun tak mudah
aku ingin menjadi ibu dari anak-anak yang hebat
para mujahidin yang tangguh, cerdas, dan paling utama taat kepada Allah
aku ingin menjadi seperti Asma binti Abu bakar yang memiliki anak setangguh Abdullah bin Zubair
atau ingin sekuat Khansa yang sanggup membentuk jiwa syahid pada diri keempat anaknya
aku ingin anak-anakku menjadi pemimpin umat di bidangnya
aku ingin mendidik mereka dengan cara terbaik
semua itu tidak mudah, maka jangan heran jika ku banyak menulis pendidikan anak
aku tak mau menganggap mereka, anak-anakku, sebagai bahan uji coba
baru meraba-raba seketika mereka telah ada
Cara terbaik dari ayah dan ibu yang terbaik.
Semoga Allah merahmati cita-citaku ini. Memberkahiku dengan kesuburan, memberikanku keturunan yang shalih dan shalihah. Mengizinkanku memeluk kemuliaan, bukan dengan harta, tetapi dengan ilmu dan kebijaksanaan.
Amiin
Minggu, 13 November 2011
Luka dan pertahanan diri
Kita semua pasti pernah mengalami hal yang menyakitkan dalam hidup kita. Jangan salah, orang yang tampak sangat ceria pun mungkin menyimpan banyak duka dalam dirinya. Begitulah hidup, sejauh apa pun kita menghindar dari yang namanya masalah justru kita akan menemuinya. Seorang yang kuat akan lebih memilih menghadapi masalah ketimbang lari menghindar. Percayalah, jika kita pandai mengambil hikmah dari setiap masalah yang terjadi, kita akan semakin bijak dan dewasa. Anggaplah masalah merupakan suatu nikmat, bukan musibah.
Di ilmu psikologi, ada istilah yang disebut Defense Mechanism atau mekanisme pertahanan diri. Mekanisme pertahanan diri digunakan untuk melindungi diri kita dari peristiwa yang mengecewakan, menyedihkan, dan menakutkan. Ada beberapa mekanisme pertahanan diri yang biasa dilakukan, (kita psti pernah menggunakan salah satu atau beberapa di antaranya).
Luka apa pun pasti kita akan berusaha menyembuhkannya. Ada luka yang dapat sembuh sendiri dan hilang tak berbekas. Ada juga luka besar dan membutuhkan waktu penyembuhan yang lama. Tak masalah, yang penting jangan berusaha untuk melenyapkannya dari ingatan kita. Karena itu benar-benar tidak bisa dilakukan. Hal penting yang perlu kita lakukan adalah bertawakkal kepada Allah Swt. Setiap kejadian, besar atau kecil adalah kehedak-Nya. Dan setiap apa-apa yang ditentukan-Nya tentu seimbang, adil, dan terbaik. Kalau pun bersedih dan terluka, tak perlu lama-lama, bersabarlah. Obati hatimu dengan menyerahkan seluruh hidupmu dan takdirmu hanya kepada Allah. Itu lah seorang muslim sejati di mana sabar dan doa menjadi senjata utama dalam menghadapi masalah.
Di ilmu psikologi, ada istilah yang disebut Defense Mechanism atau mekanisme pertahanan diri. Mekanisme pertahanan diri digunakan untuk melindungi diri kita dari peristiwa yang mengecewakan, menyedihkan, dan menakutkan. Ada beberapa mekanisme pertahanan diri yang biasa dilakukan, (kita psti pernah menggunakan salah satu atau beberapa di antaranya).
- Repressi, yaitu berusaha melupakan dan berbuat seolah-olah peristiwa menyakitkan itu tidak pernah ada, tidak pernah terjadi. Memori seakan-akan terhapus, tapi yang sebenarnya adalah memori itu tetap tersimpan di alam bawah sadar kita.
- Replacement, yaitu memindahkan sasaran kemarahan kita. Saat menghadapi peristiwa yang menyakitkan, tentu ada perasaan marah. Marah ini disalurkan kepada subjek atau objek yang tidak berkaitan dengan masalah yang sebenarnya. Misalnya, masalah di kantor, tapi marah-marahnya sama istri.
- Regressi, yaitu penurunan tingkat perkembangan. Karena ada masalah yang sangat berat, orang ini akan bertingkah seperti anak kecil yang manja. Misalnya orang dewasa yang menangis meraung-raung, berteriak, dan tantrum, padahal cara orang dewasa ketika menghadapi masalah biasanya hanya meneteskan air mata.
- Fiksasi, yaitu mempertahankan sikap adan perilaku kita sesuai fase perkembangan tertentu.
- Rasionalisasi, yaitu berusaha mencari pembenaran atas tindakan yang diambil. Misalnya, "Untuk apa marah, toh tidak ada gunanya".
- Intelektualisasi, yaitu menggunakan kata-kata ahli atau bijak untuk mencari pembelajaran atas tindakan yang diambil. Misalnya, Rasulullah Saw., pernah bersabda "Jangan marah, jangan marah, jangan marah".
Luka apa pun pasti kita akan berusaha menyembuhkannya. Ada luka yang dapat sembuh sendiri dan hilang tak berbekas. Ada juga luka besar dan membutuhkan waktu penyembuhan yang lama. Tak masalah, yang penting jangan berusaha untuk melenyapkannya dari ingatan kita. Karena itu benar-benar tidak bisa dilakukan. Hal penting yang perlu kita lakukan adalah bertawakkal kepada Allah Swt. Setiap kejadian, besar atau kecil adalah kehedak-Nya. Dan setiap apa-apa yang ditentukan-Nya tentu seimbang, adil, dan terbaik. Kalau pun bersedih dan terluka, tak perlu lama-lama, bersabarlah. Obati hatimu dengan menyerahkan seluruh hidupmu dan takdirmu hanya kepada Allah. Itu lah seorang muslim sejati di mana sabar dan doa menjadi senjata utama dalam menghadapi masalah.
Rabu, 09 November 2011
Spam membawa derita (bikin malu ajah)
Ini adalah insiden yang terjadi pada hampir sepertiga malam tadi. Peristiwa yang tidak akan aku lupakan dan menjadi pelajaran.Semoga tidak akan terulang. Aku tidak akan banyak bermain-main lagi dengan yang bernama Internet, cukup seperlunya dan harus berasaskan manfaat. Bismillah, semoga aku selalu bisa menjaga niat ini.
***
Pukul 02.40 aku terbangun karena perut terasa melilit. Semakin lama terasa semakin sakit, seperti diremas. Semalam emang makan sambel kebanyakan, jadi begini deh. Bergegas aku menuju kamar mandi untuk meredakan sakit peut ini. Alhamdulillah, memang obat alami sakit perut ya ke toilet. Sakit perutku sudah berkurang, walau masih sakit. hehhehhee.
Selesai keperluan, aku langsung saja mengambil wudhu, niat shalat tahajud. Tapi perut masih berasa ngga enak. Aku terpaksa mengambil adegan ngambil wudhu berkali-kali karena batal oleh buang angin ( :p ). Capek juga sih, mau shalat jadi ngga mulai-mulai. Sambil meremas-remas perut yang sebenarnya sudah kosong tapi masih sakit ini, tiba-tiba terbesit untuk buka netbook. Aku menyalakan netbook dan mulai menjelajah internet. Buka fb, eh ada satu post wall dari temen yang berisi satu link aneh, gambarnya juga aneh (cewe pake baju seksi). Aku heran aja. Temenku ini jarang nulis atau ngirim post, lagipula dia baik kok orangnya. Karena fokus dengan perut yang masih sakit, aku main klik aja link itu. Pas dibuka, Alhamdulillah ngga ada gambar yang jorok. Cuma ada gambar kerumunan orang dan tulisan "anda berhak menang" (dalam bahasa inggris). Hadeeh... aku kira apa. fb aku tutup, netbook aku log off. Lanjut shalat tahajud.
Baru shalat dua rakaat tahajud, kok tiba-tiba kepikiran isi fb yang tadi. Langsung aja kubuka lagi fb di netbook. Pas ngeklik home, Jueeenggggggg.... Tertera aku mengirim link yang aneh itu ke beberapa wall friend padahal ngga pernah ngirim. "Ah parah, ini mah spam. kenapa ngga kepikiran tadi." Gumamku kepada diri sendiri, marah..
Lanjut, aku langsung kepikiran untuk me-deactive-kan. Dengan sedikit panik aku mulai mencari cara menonaktifkan akunku itu. Alhamdulillah, ketemu! Tapi sudah terlambat. Hampir semua teman sudah terkirim spam yang berasal dariku itu, bahkan sudah ada teman akhwat yang juga membuka dan otomatis dia pun akan menginfeksi teman-temannya yang lain. Astagfirullah, aku merasa bersalah. Bukan spam yang aku pikirin, tapi pendapat orang yang terkirim. Pastinya orang-orang yang terkirim akan berpikiran buruk terhadap si akhwat temanku ini. Allahu akbar. Kasihan dia. Walaupun pada akhirnya orang tahu itu hanya spam, tapi aku berdosa terhadap nama baik temanku ini. Harusnya tidak boleh terjadi, akhwat mengirimkan link yang dari luar tampak gambar seronok. Astagfirullah. ini salahku.
Allah ya Rahman, maafkan hamba. Teman-teman maafkan aku. Harusnya kau langsung tahajud saja, tidak tergoda membuka internet. Harusnya aku lebih berhati-hati, seberapa pun besar rasa penasaranku, terlebih jika dari luar tampak gambar yang aneh. Harusnya aku bisa menyelesaikan ibadahku. Gara-gara peristiwa ini, aku jadi hanya shalat dua rakaat tanpa witir (udah keburu azan subuh). Astagfirullah.. Aku masih merasa bersalah hingga saat ini. Maaf ya ukh...
***
Pukul 02.40 aku terbangun karena perut terasa melilit. Semakin lama terasa semakin sakit, seperti diremas. Semalam emang makan sambel kebanyakan, jadi begini deh. Bergegas aku menuju kamar mandi untuk meredakan sakit peut ini. Alhamdulillah, memang obat alami sakit perut ya ke toilet. Sakit perutku sudah berkurang, walau masih sakit. hehhehhee.
Selesai keperluan, aku langsung saja mengambil wudhu, niat shalat tahajud. Tapi perut masih berasa ngga enak. Aku terpaksa mengambil adegan ngambil wudhu berkali-kali karena batal oleh buang angin ( :p ). Capek juga sih, mau shalat jadi ngga mulai-mulai. Sambil meremas-remas perut yang sebenarnya sudah kosong tapi masih sakit ini, tiba-tiba terbesit untuk buka netbook. Aku menyalakan netbook dan mulai menjelajah internet. Buka fb, eh ada satu post wall dari temen yang berisi satu link aneh, gambarnya juga aneh (cewe pake baju seksi). Aku heran aja. Temenku ini jarang nulis atau ngirim post, lagipula dia baik kok orangnya. Karena fokus dengan perut yang masih sakit, aku main klik aja link itu. Pas dibuka, Alhamdulillah ngga ada gambar yang jorok. Cuma ada gambar kerumunan orang dan tulisan "anda berhak menang" (dalam bahasa inggris). Hadeeh... aku kira apa. fb aku tutup, netbook aku log off. Lanjut shalat tahajud.
Baru shalat dua rakaat tahajud, kok tiba-tiba kepikiran isi fb yang tadi. Langsung aja kubuka lagi fb di netbook. Pas ngeklik home, Jueeenggggggg.... Tertera aku mengirim link yang aneh itu ke beberapa wall friend padahal ngga pernah ngirim. "Ah parah, ini mah spam. kenapa ngga kepikiran tadi." Gumamku kepada diri sendiri, marah..
Lanjut, aku langsung kepikiran untuk me-deactive-kan. Dengan sedikit panik aku mulai mencari cara menonaktifkan akunku itu. Alhamdulillah, ketemu! Tapi sudah terlambat. Hampir semua teman sudah terkirim spam yang berasal dariku itu, bahkan sudah ada teman akhwat yang juga membuka dan otomatis dia pun akan menginfeksi teman-temannya yang lain. Astagfirullah, aku merasa bersalah. Bukan spam yang aku pikirin, tapi pendapat orang yang terkirim. Pastinya orang-orang yang terkirim akan berpikiran buruk terhadap si akhwat temanku ini. Allahu akbar. Kasihan dia. Walaupun pada akhirnya orang tahu itu hanya spam, tapi aku berdosa terhadap nama baik temanku ini. Harusnya tidak boleh terjadi, akhwat mengirimkan link yang dari luar tampak gambar seronok. Astagfirullah. ini salahku.
Allah ya Rahman, maafkan hamba. Teman-teman maafkan aku. Harusnya kau langsung tahajud saja, tidak tergoda membuka internet. Harusnya aku lebih berhati-hati, seberapa pun besar rasa penasaranku, terlebih jika dari luar tampak gambar yang aneh. Harusnya aku bisa menyelesaikan ibadahku. Gara-gara peristiwa ini, aku jadi hanya shalat dua rakaat tanpa witir (udah keburu azan subuh). Astagfirullah.. Aku masih merasa bersalah hingga saat ini. Maaf ya ukh...
Jumat, 04 November 2011
Polisi Goceng
Kalau kalian melewati Melawai, daerah dekat Blok M, kalian pasti akan menemukan yang namanya "Polisi Goceng". Ya, begitulah julukan yang kuberikan kepada oknum polisi yang kerjaannya kalau malam hari begini nongkrong pake motornya di sekitar jalan Melawai terus mungutin uang lima ribu rupiah dari bis angkutan yang nakal.
***
Seperti biasa, hari ini aku pulang kerja transit di terminal Blok M, lalu melanjutkan naik metromini 69. Seperti biasa pula, kemacetan adalah hal yang tidak bisa dihindarkan di Jakarta ini, sudah semacam keharusan. Bagai sayur tanpa garam, Jakarta pun tidak akan lengkap tanpa yang namanya macet.
Baru keluar terminal, titik kemacetan pertama yang ditemui adalah di area Melawai. Dulu, kondisinya tidak seperti ini, tapi sekarang parah banget macetnya, bisa setengah jam mandek di daerah itu kalau nurutin antrean bis yang berjejer jalan satu per satu.
Kemacetan ini terjadi setelah rampungnya pembangunan mall Blok M dengan akses masuk dari jalan Melawai. Bodohnya, pemerintah ngga aware banget terhadap tata kelola pembangunan mall ini. Bayangin aja, pintu masuk dan keluar dibuat dari arah Melawai, tapi lebar jalan Melawai ngga diperluas. Namanya juga mall, pasti pengunjungnya banyak. Bis-bis angkutan umum macam metromini dan kopaja yang melintasi jalan tersebut otomatis mencari penumpang di daerah itu dengan cara nge-tem. Alhasil, jalan yang hanya muat satu baris mobil/bis itu akhirnya dipenuhi pemandangan bis-bis yang berjejer ke belakang dan bunyi klakson di mana-mana.
Metromini 69 yang kunaiki ini sudah penuh penumpang, ia tidak perlu mencari penumpang lagi. Namun, di depan bis ini ada metromini 610, 74, dan lain-lain yang masih sepi penumpang. Ada 5 bis di depan kami. Sebagian sengaja mencari penumpang, sebagian menjadi korban kemacetan seperti kami. Sekitar 10 menit, kami berada di jalan Melawai, menunggu giliran lewat. Tak tahan dengan kemacetan, akhirnya si supir metromini ini mengambil lajur kanan (arus berlawanan). Gile bener dah si pak supir. Menantang bahaya karena tidak sabar ingin segera langsung mengantar penumpangnya (hehhe lebay..). “Abis kalau ngga nakal begini kapan nyampenya., bisa sejam di sini doang” gerutu si sopir. Bener juga sih, metromini 610 yang berada paling depan di barisan terlihat asik-asik aja ngetem, ngga sadar apa yah ada banyak bis di belakangnya. Huhh.. di klaksonin juga percuma, bikin berisik aja. Bukannya protes, penumpang di metromini ini hanya diam atau bahkan malah senang dengan kelakuan nakal pak supir, termasuk aku juga sih, yang penting bisa nyampe lebih cepat.
Berhasil melewati rintangan arus berlawanan, kini metromini kami berada paling depan di barisan. Cihuyy.. let go bang… qt pulang. Eitt.. tunggu, tiba-tiba bis berhenti. Rupanya si sopir lagi ngomong sama seorang polisi yang sedang berada di motornya. Tak banyak pak spoir berkata-kata, kulihat ia langsung menjulurkan tangannya yang menggenggam sesuatu ke arah polisi itu. Pak polisi langsung dengan sigap meraih tangan si sopir dan mengambil apa yang berada di genggaman sopir.
“Ngasih berapa bang tadi?” tanya si kenek. “Biasa, goceng. Ngga kenapa-napa keluar goceng. Mending keluar segitu daripada lama di sini” jawab si sopir.
Dengan mudahnya polisi yang masih berseragam itu menerima sogokan pak sopir dan angka sogokannya pun goceng atau lima ribu rupiah. MashaAllah.. terlalu deh. Kalau dilihat angka uang itu memang tidak besar, tapi perilaku nakal yang dilakukan sopir metromini kami bukanlah satu-satunya. Pasti ada saja yang berpikiran sama dengan sopir kami, dengan sengaja menyelak jalan lalu mengikhlaskan uang lima ribu ke polisi itu. Kalau saja ada sepuluh bis, maka uang yang didapat adalah 50.000 dalam satu malam (hanya beberapa jam). Panen diut si polisi, ngga ngapa-ngapain, cuma nongkrong doang langsung dapat duit segitu. Anehnya lagi, pak polisi tidak tampak mengatur jalanan atau memaksa bis yang nge-tem agar bisa jalan segera supaya tidak menghambat yang sebelumnya, dia malah asik memungut uang denda “illegal”.
Beginilah negaraku, praktik korupsi begitu dekat dengan kehidupan masyakaratnya setiap hari. Kalau begini, kapan Indonesiaku akan bangkit maju? Hadeeehhh….
Kamis, 03 November 2011
akan segera berlalu
Desiran ombak tak seceria biasanya
nyanyian burung tak semerdu sebelumnya
hembusan angin tak lagi sesejuk kenangannya
adakah ini pertanda
harapan itu tampaknya sudah sirna
Mana ku tahu aku ini sedang tidur atau terjaga
saat ini, keduanya seolah sama saja
tak ada beda antara ratusan mil berlari dengan sejengkal melompat
Sudah, aku tak mau diganggu
bukan waktu hal mudah mengobati luka yang lalu
Biarkan aku sendiri
satu hal yang kuinginkan hanyalah memperbaiki diri
Ada banyak alasan yang menjadikan ku lemah
tapi masih lebih banyak lagi alasan yang menjadikanku kuat
Tak masalah... aku sudah terbiasa
Aku punya Dia, yang ku yakin memberiku ganti terhadap semua kecewa
yang penting aku tetap bersama-Nya dan teguh di jalan-Nya.
nyanyian burung tak semerdu sebelumnya
hembusan angin tak lagi sesejuk kenangannya
adakah ini pertanda
harapan itu tampaknya sudah sirna
Mana ku tahu aku ini sedang tidur atau terjaga
saat ini, keduanya seolah sama saja
tak ada beda antara ratusan mil berlari dengan sejengkal melompat
Sudah, aku tak mau diganggu
bukan waktu hal mudah mengobati luka yang lalu
Biarkan aku sendiri
satu hal yang kuinginkan hanyalah memperbaiki diri
Ada banyak alasan yang menjadikan ku lemah
tapi masih lebih banyak lagi alasan yang menjadikanku kuat
Tak masalah... aku sudah terbiasa
Aku punya Dia, yang ku yakin memberiku ganti terhadap semua kecewa
yang penting aku tetap bersama-Nya dan teguh di jalan-Nya.
Rabu, 02 November 2011
Pemalu atau Berani!
Di sebuah tempat makan, ada dua anak yang berbeda keluarga. Anak pertama membisikkan kepada ibunya bahwa ia mau makan dengan saos tomat, anak kedua menyampaikan pada ibunya bahwa ia ingin sedotan minum. Ibu dari anak pertama, serta merta melangkah menuju tempat saos tomat. Lalu, memberikan saos tersebut kepada anaknya. Ibu dari anak yang kedua melakukan hal yang berbeda. Ia mengatakan kepada anaknya, "Kamu tahu di mana tempat sedotan?" Si anak mengangguk. Kemudian, ibu tersebut bertanya, "Kamu berani ngambil sendiri?". "Takut bu..", jawab si anak. Lanjut si ibu, "Apa yang kamu takutkan, ibu ada di sini, kamu ambil sendiri di sana, ibu tetap ngeliatin kamu, ibu jagain supaya ngga ada yang gangguin". Anak tersebut melangkah maju meski awalnya ragu-ragu, baru tiga langkah ia menoleh ke arah ibunya. Ibunya menyemangati anaknya dengan senyuman dan anggukan kepala seraya berkata "Tenang, ibu terus ngawasin kok". Akhirnya si anak sampai ke tempat sedotan itu, tapi rupanya tempatnya terlalu tinggi. ia berlari ke arah ibunya. Si ibu berkata, "coba kamu minta tolong sama om yang pake seragam itu, Tadi kamu udah berani, sekarang pasti bisa". Si anak berlari ke arah petugas lalu meminta tolong seperti instruksi si ibu. Dengan senang hati petugas itu membantu si anak. Si anak tersenyum bangga berlari membawa sedotan ke arah ibunya.Ibunya menyambut dengan senyuman lalu berkata, "Tuh kan kamu bisa, kamu hebat.. ibu bangga".
Dari kisah ini dapat kita ambil beberapa pelajaran. Orang tua anak pertama terlihat memanjakan anaknya. Perilaku orang tua yang seperti ini yang akan membuat anak menjadi lemah. Sementara orang tua dari anak kedua dapat memanfaatkan kesempatan untuk mengasah keberanian si anak.
Lawrence E. Saphiro, Ph.D mengatakan bahwa pada dasarnya semua anak adalah pemalu. Namun, ada anak yang berubah menjadi pemberani, atau ada juga yang tetap menjadi pemalu. Hal yang membedakan mereka adalah pendekatan yang dilakukan oleh ibunya.
Dari kisah ini dapat kita ambil beberapa pelajaran. Orang tua anak pertama terlihat memanjakan anaknya. Perilaku orang tua yang seperti ini yang akan membuat anak menjadi lemah. Sementara orang tua dari anak kedua dapat memanfaatkan kesempatan untuk mengasah keberanian si anak.
Lawrence E. Saphiro, Ph.D mengatakan bahwa pada dasarnya semua anak adalah pemalu. Namun, ada anak yang berubah menjadi pemberani, atau ada juga yang tetap menjadi pemalu. Hal yang membedakan mereka adalah pendekatan yang dilakukan oleh ibunya.
Senin, 31 Oktober 2011
Bu, aku mau manjat, boleh ngga?
Setiap anak pasti suka memanjat. Arena bermain anak pasti dilengkapi
dengan sarana untuk memanjat. Ketika sarana memanjat tidak ada, anak
pasti akan memanjat apa saja yang dapat digunakannya untuk memanjat.
Pohon mangga di depan rumah, pintu gerbang, atau pun teralis jendela rumah tak
luput menjadi sarana anak untuk memanjat.
Memanjat adalah kegiatan yang menyenangkan bagi mereka, tapi tidak bagi orang tua yang merasa khawatir anaknya jatuh. Jika kita khawatir dengan keselamatannya, maka otomatis kita berteriak saat melihatnya memanjat. Kemudian dengan serta merta kita membuat peraturan "Tidak boleh memanjat". Namun, apakah aturan itu berhasil melindungi anak dan membuatnya berhenti memanjat? Jawabannya, belum tentu. Ketika kita tidak ada, ia bisa saja melakukannya lagi.
Jadi, apa yang harus kita lakukan?
Barang kali lebih efektif jika kita mengajarkan anak cara memanjat yang aman. Tuntun agar anak bisa menggunakan tangannya terlebih dahulu untuk mencari tumpuan yang kuat dan kaki mencari pijakan yang kuat. Jika naik, kaki ke pijakan di atasnya terlebih dahulu baru disusul mengangkat badan. Jika turun, tanganlah yang bergerak mencari pegangan di bawahnya lalu disusul kaki turun ke bawah mencari pijakan di bawahnya. Pastikan posisi tangan dan kaki aman dari bahaya terpeleset. Sambil memberi aba-aba, kita awasi anak ketika mempaktikannya. Setelah anak berhasil mencoba 3 sampai 5 kali, kita awasi saja dari jarak yang cukup. Dengan begitu, anak akan menikmati permainan dan lebih terampil, sedangkan orang tua dapat merasa aman tanpa harus membatasi kreativitasnya.
Kasus memanjat hanyalah satu dari sekian banyak hal yang disukai anak-anak, tetapi sering dibatasi orang tua. Kasih sayang dan perhatian bukan untuk membatasi mereka. Sebagai orang tua seharusnya kita lebih bijak dalam menerapkan aturan dan larangan. Kita semua pasti mengharapkan memiliki anak yang berani, cerdas, dan kreatif. Namun, bagaimana bisa kita mewujudkannya jika kita banyak membatasi ruangnya dalam mengasah keterampilan motorik dan sosialnya.
Contoh yang lain adalah kegiatan makan dan menggambar. Sedini mungkin, di saat anak mulai bisa menggunakan tangannya untuk makan, kita biarkan anak makan sendiri jangan terus disuapi. Hal ini bisa melatih kemandiriannya. Sayangnya, para ibu sering tidak sabar dan malas untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang terjatuh atau mengganti baju anak yang penuh noda makanan. Kalau begitu, kita hanya perlu meletakkan alas koran atau perlak di bawah tempat si anak makan dan memakaikan baju rumah yang siap kotor. Begitu pun saat si anak menggambar sendiri. Kita memfasilitasi anak untuk berkembang dan mandiri sedini mungkin agar pribadinya tidak menjadi anak yang ketergantungan (manja) dengan orang tua.
Bila ingin anak kreatif, orang tua juga harus kreatif!
Memanjat adalah kegiatan yang menyenangkan bagi mereka, tapi tidak bagi orang tua yang merasa khawatir anaknya jatuh. Jika kita khawatir dengan keselamatannya, maka otomatis kita berteriak saat melihatnya memanjat. Kemudian dengan serta merta kita membuat peraturan "Tidak boleh memanjat". Namun, apakah aturan itu berhasil melindungi anak dan membuatnya berhenti memanjat? Jawabannya, belum tentu. Ketika kita tidak ada, ia bisa saja melakukannya lagi.
Jadi, apa yang harus kita lakukan?
Barang kali lebih efektif jika kita mengajarkan anak cara memanjat yang aman. Tuntun agar anak bisa menggunakan tangannya terlebih dahulu untuk mencari tumpuan yang kuat dan kaki mencari pijakan yang kuat. Jika naik, kaki ke pijakan di atasnya terlebih dahulu baru disusul mengangkat badan. Jika turun, tanganlah yang bergerak mencari pegangan di bawahnya lalu disusul kaki turun ke bawah mencari pijakan di bawahnya. Pastikan posisi tangan dan kaki aman dari bahaya terpeleset. Sambil memberi aba-aba, kita awasi anak ketika mempaktikannya. Setelah anak berhasil mencoba 3 sampai 5 kali, kita awasi saja dari jarak yang cukup. Dengan begitu, anak akan menikmati permainan dan lebih terampil, sedangkan orang tua dapat merasa aman tanpa harus membatasi kreativitasnya.
Kasus memanjat hanyalah satu dari sekian banyak hal yang disukai anak-anak, tetapi sering dibatasi orang tua. Kasih sayang dan perhatian bukan untuk membatasi mereka. Sebagai orang tua seharusnya kita lebih bijak dalam menerapkan aturan dan larangan. Kita semua pasti mengharapkan memiliki anak yang berani, cerdas, dan kreatif. Namun, bagaimana bisa kita mewujudkannya jika kita banyak membatasi ruangnya dalam mengasah keterampilan motorik dan sosialnya.
Contoh yang lain adalah kegiatan makan dan menggambar. Sedini mungkin, di saat anak mulai bisa menggunakan tangannya untuk makan, kita biarkan anak makan sendiri jangan terus disuapi. Hal ini bisa melatih kemandiriannya. Sayangnya, para ibu sering tidak sabar dan malas untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang terjatuh atau mengganti baju anak yang penuh noda makanan. Kalau begitu, kita hanya perlu meletakkan alas koran atau perlak di bawah tempat si anak makan dan memakaikan baju rumah yang siap kotor. Begitu pun saat si anak menggambar sendiri. Kita memfasilitasi anak untuk berkembang dan mandiri sedini mungkin agar pribadinya tidak menjadi anak yang ketergantungan (manja) dengan orang tua.
Bila ingin anak kreatif, orang tua juga harus kreatif!
Langganan:
Postingan (Atom)