Beberapa waktu lalu, tepatnya pada hari Ibu, saya membaca sebuah status
facebook seorang ikhwah (semoga Allah memberkahinya) yang berisi tentang
ajakan yang sangat baik yaitu berbakti kepada ibu setiap hari, tanpa
mengkhususkan satu hari saja. Berbakti kepada ibu, tidak mesti
mengucapkan Selamat Hari Ibu pada tgl 22 Des, tetapi dengan berkata2
lembut, bersikap santun,
memenuhi harapannya, dan sebagainya.
Saya sangat setuju dengan
pernyataan ikhwah tsb. Namun ada hal yang menarik yang ditulis olehnya
di dalam teks status itu. Di bagian tengahnya, dia menyetarakan ucapan
valentine dengan ucapan hari ibu, keduanya tidak ada dalam islam.
kurang lebih tertulis seperti ini, "Lagipula, seperti hari valentine dan hari2 lainnya,peringatan
hari ibu jg sebenarnya bukan berasal dari ajaran Islam. peringatan hari
tertentu adalah berasal dari kaum kufar, sehingga kita tidak boleh
mengikutinya, sebagaimana sabda Rasulullah, 'Barangsiapa yang menyerupai
suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.' HR. Ahmad dan Abu
Daud" Apa yang dia katakan ini benar dan saya sangat suka, kemudian muncul pertanyaan dalam benak saya saat memmbacanya ulang.
Apakah saat kita mengucapkan Selamat Hari Ibu atau merayakannya (misal
dengan memberi hadiah kepada ibu) merupakan hal yang dimaksud dalam
hadist itu, apakah berarti kita telah mengikuti suatu kaum? Lalu apakah
perayaan hari ibu sama dengan valentine?
kedua pertanyaan ini
membuat saya mencari tahu apakah sebenarnya patokan dari yang kita sebut
"menyerupai suatu kaum". Alhamdulillah, dapat referensi mengenai hal
ini.
dari Forum Tanya Jawab dengan Syaikh Muhammad Saalih Al-Munajid, guru besar di Riyadh, Saudi Arabia. di http://islamqa.info/id/ref/21694. Ana Copy-paste di bawah ya..
**** Apa batasan menyerupai dengan orang barat? Apakah
setiap apa yang baru dan datang kepada kami dari barat termasuk
menyerupai dengan mereka? Dalam pengertian lain, bagaimana kami dapat
menghukumi sesuatu bahwa ia adalah haram karena menyerupai dengan orang
kafir?
Alhamdulillah
Dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah sallallahu
alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
"Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia
termasuk golongan mereka." (HR. Abu Dawud, Al-Libas, 3512. Al-Albany berkata
dalam Shahih Abu Dawud, Hasan Shahih no. 3401)
Al-Manawi dan Al-Alqomi berkata, "Yakni dalam
penampilannya memakai pakaian seperti pakaian mereka, mengikuti cara jalan,
tata cara dalam pakaian dan sebagian prilaku mereka."
Al-Qori mengatakan, "Maksudnya barangsiapa
dirinya menyerupai orang kafir seperti pada pakaiannya atau lainnya atau
(menyerupai) dengan orang fasik, pelaku dosa dan orang sufi serta orang
saleh dan baik (maka dia termasuk di dalamnya) yakni dalam mendapatkan dosa
atau kebaikan."
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata di kitab
Ash-Shiratal Mustaqim, "Imam Ahmad dan ulama lainnya telah berdalil dengan
hadits ini. Hadits ini, minimal kondisinya adalah mencakup pengharaman
menyerupai mereka sebagaimana dalam Firman-Nya, "Barangsiapa di antara kamu
semua yang mengambil penolong dari kalangan mereka, maka dia termasuk di
dalamnya." Hal ini seperti ucapan Abdullah bin Amr beliau berkata,
"Barangsiapa yang membangun di tanah orang musyrik dan membuat perayaan dan
hari raya mereka serta menyerupai mereka sampai dia meninggal dunia, maka
akan dikumpukan bersama mereka pada hari kiamat." Hal ini bisa jadi karena
menyerupai secara mutlak, karena hal itu mengharuskan kepada kekafiran. Ada
kemungkinan juga pengharaman pada sebagian itu. Ada kemungkinan sesuai sisi
kesamaannya. Kalau itu berbentuk kekufuran, kemaksiatan atau syiar baginya,
maka hukumnya sama seperti itu."
Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi
sallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau melarang menyerupai orang asing.
Dan beliau berkata, "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia
termasuk di dalamnya. Hal ini disebutkan oleh Qodhi Abu Ya’la. Dan hal ini
telah dijadikan dalil tidak hanya satu dari kalangan para ulama memakruhkan
sesuatu dari pakaian orang non muslim."
(Silahkan lihat kitab Aunul Ma’bud Syarkh
Sunan Abi Daud)
Penyerupaan dengan orang kafir ada dua bagian
Penyerupaan yang diharamkan dan penyerupaan
yang mubah
Bagian pertama: Penyerupaan yang diharamkan
yaitu prilaku yang menjadi ciri khusus agama orang kafir padahal dia telah
mengetahuinya dan tidak ada dalam agama kita. Hal ini diharamkan, bisa jadi
termasuk dosa besar. Bahkan sebagiannya bisa mengarah kepada kekufuran
sesuai dengan dalilnya. Apakah hal tersebut dilakukan oleh seseorang sesuai
dengan orang kafir atau karena syahwat atau syubhat dalam pandangannya hal
tersebut akan bermanfaat di dunia dan akhirat.
Kalau dikatakan, orang yang melakukan prilaku
ini sementara dia tidak tahu, apakah dia berdosa juga seperti orang yang
merayakan hari kelahiran?
Jawabannya adalah orang yang tidak tahu tidak
berdosa karena ketidaktahuannya. Akan tetapi dia hendaknya diberitahu, kalau
dia tetap melakukannya. Maka dia berdosa.
Bagian kedua:Menyerupai yang dibolehkan,
yaitu prilaku yang asalnya tidak diambil dari orang kafir. Akan tetapi orang
kafir melakukannya juga. Hal ini tidak dilarang menyerupainya akan tetapi
dia boleh jadi, dia tidak mendapatkan manfaat berbeda (dari orang kafir).
Menyerupai ahli kitab dan lainnya dalam
masalah dunia tidak dibolehkan kecuali dengan syarat,
Hendaknya hal
ini bukan termasuk kebiasan dan syiar yang membedakan mereka (dengan
lainnya)
Hal itu bukan
termasuk dari ajaran mereka yang ditetapkan dengan data yang valid. Seperti
apa yang telah diberitakan Allah kepada kita dalam kitab-Nya atau lewat
lisan Rasul-Nya atau dengan menukil secara mutawatir seperti sujud
penghormatan yang dibolehkan pada umat terdahulu.
Tidak ada
dalam agama kita penjelasan khusus akan hal itu. kalau ada penjelasan khusus
dengan penyamaan atau perbedaan. Maka cukup hal itu dari penjelasan yang ada
di agama kita
Penyerupaan
atau perbedaan ini tidak menjurus ke masalah syariat
Penyerupaan
tidak pada perayaan mereka
Penyerupaan
sesuai dengan keperluan yang diinginkan dan menambahinya
Silahkan lihat kitab As-Sunan
Wal Atsar Fin Nahyi An At-Tasyabbuh Bil Kuffar, karangan Suhail Hasan hal.
58-59.
Senin, 19 Desember 2011
Belakangan ini, aku merasakan begitu nikmat mengucap lafaz Allah hingga secara tak sadar kerinduanku kepada Dia, Sang Khalik, menbuncah. Ditambah melihat dunia yang begitu hina, aku semakin ingin kembali kepada kesucian sebagaimana awal kami diciptakan. Bukan, perasaan ini bukan karena aku ingin menghindari masalah-masalah dan semua hal di dunia. Tapi sungguh, aku merasakan ada perasaan lebih besar dari sebelumnya, aku mencintai dan merindukan Tuhanku.
Ya Allah, Rabbana.. perasaan apa ini. Semoga merupakan karunia dari-Mu, yaitu pertambahan iman. Jika memang begitu, hamba mohon kuatkan iman di hati hamba, tambahkan, lalu sempurnakan ya Rahman. Ya Allah, hamba begitu takut kembali kepada-Mu dalam keadaan kotor, dengan banyak dosa. Begitu banyak waktu hamba terbuang dengan kesia-siaan dan maksiat. Ampuni hamba ya Rabb. Hamba sungguh tidak sanggup bila harus mendapat siksa-Mu. Membayangkannya saja hamba sudah sangat takut.
Saat ini hamba berpeluh air mata.. semua karena hamba begitu takut dan cemas akan azab-Mu. Ampuni hamba ya Rabb. Jika memang waktunya bagi ruhku keluar dari jasad ini, keluarkan dengan cara yang lembut dan baik ya Malik. Mudahkan bagi hamba menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikatmu di dalam kubur, lapangkan dan terangi tempat persinggahan sementara itu, serta tidurkan hamba dalam keadaan yang baik. Hamba mohon kabulkan ya Allah.. Kemudian, bangkitkan hamba dalam keadaan yang baik dan sungguh hamba tidak ingin aurat hamba terlihat. Sebagai balasan hamba selama ini telah berusaha menutupi aurat hamba, jadi hamba mohon segera tutupi tubuh hamba setelah dibangkitkan. Bariskan hamba bersama orang-orang beriman di barisan Rasulullah saw. Izinkan hamba mengenali, menghampiri, lalu menciumnya sebagai pengakuan bahwa hamba adalah orang yang selama ini berusaha mengikuti sunnahnya dan kemudian mendapat syafaatnya. Mudahkan bagi hamba melewati sidhratulmuntaha, kemudian dengan keberkahan-Mu, selamatkan hamba di hari penghisaban itu. Sungguh, Engkau Maha Pengampun lagi Penyayang
Ya Rabb, hamba bukan siapa-sapa. Hamba sungguh malu kepada-Mu, hamba tidak memiliki amalan khusus yang kuat dan bisa hamba banggakan. Sehingga hanya belas kasihan-Mu yang bisa menyelamatkan hamba. Hanya bermodalkan kalimat syahadat dan keteguhan memegangnya, masukkan hamba ke dalam surga atas rahmat-Mu.Ya Allah, hamba memohon agar hamba menjadi seorang yang syahid di jalanmu sebagai cara terbaik kembali kepada-Mu.
Amiin
Last Breath by Ahmed Bukhatir
From those around I hear a Cry,
A muffled sob, a Hopeless sigh,
I hear their footsteps leaving slow,
And then I know my soul must Fly!
A chilly wind begins to blow,
Within my soul, from Head to Toe,
And then, Last Breath escapes my lips,
It's Time to leave. And I must Go!
So, it is True (But it's too Late)
They said: Each soul has its Given Date,
When it must leave its body's core,
And meet with its Eternal Fate.
Oh mark the words that I do say,
Who knows? Tomorrow could be your Day,
At last, it comes to Heaven or Hell
Decide which now, Do NOT delay!
Come on my brothers let us pray
Decide which now, Do NOT delay!
Oh God! Oh God! I cannot see!
My eyes are Blind! Am I still Me
Or has my soul been led astray,
And forced to pay a Priceless Fee
Alas to Dust we all return,
Some shall rejoice, while others burn,
If only I knew that before
The line grew short, and came my Turn!
And now, as beneath the sod
They lay me (with my record flawed),
They cry, not knowing I cry worse,
For, they go home, I face my God!
Oh mark the words that I do say,
Who knows, Tomorrow could be your Day,
At last, it comes to Heaven or Hell
Decide which now, Do NOT delay !
Come on my brothers let's pray
Decide which now, do not delay ....
“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada
hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.(1)Pemimpin yang adil,
(2) Seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada
Rabbnya, (3) Seorang yang hatinya selalu terikat pada masjid, (4) Dua
orang yang saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, berkumpul
dan berpisah karena Allah pula, (5) Seorang lelaki yang di ajak zina
oleh wanita yang kaya dan cantik tapi ia menolaknya seraya berkata ‘Aku
takut kepada Allah’, (6) Seseorang yang bersedekah dengan
menyembuyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang
dinfaqkan oleh tangan kanannya, serta (7) Seorang yang berzikir kepada
Allah di kala sendiri hingga kedua matanya basah karena
menangis.” (HR. Bukhari)
Ada sebuah kisah cinta yang entah ini benar atau tidak. Kisah cinta yang cukup mengharukan dan menginspirasi. Ujian manusia bisa datang dalam berbagai bentuk. Ada kalanya ujian itu berbentuk sebuah gejolak jiwa yang bernama "cinta". Allah hendak menguji hati-hati yang dilanda cinta, apakah cintanya kepada Allah jauh lebih besar ketimbang cinta yang saat ini dia rasakan. Sama seperti ujian yang lain, ujian cinta pun tidak kalah hebatnya, bahkan orang yang taat beribadah atau berilmu pun bisa tergelincir ke jurang dosa karenanya. Naudzubillah. Cinta adalah urusan hati dan hanya sedikit menyangkut akal manusia. Oleh karena itu, ia tidak mengenal logika dan mampu menguasai manusia, menjadikan jiwa mereka tidak tenang saat dihantam ombak ujian cinta.
Berikut kisahnya.
Al Mubarrid menuturkan dari Abu Kamil, dari Ishaq bin Ibrahim, dari Raj' bin Amru An Nakha, menceritakan:
Di kota Kuffah ada seorang pemuda yang tampan sekali wajahnya, rajin beribadah, dan berijtihad. Suatu hari ia singgah di suatu kaum dai An Nakha. Di sana pandangannya berpapasan dengan seorang gadis cantik jelita dari kaum itu. Ia langsung jatuh cinta kepada gadis tersebut dan berniat untuk memilikinya. Dia pun singgah di tempat yang lebih dekat dengan rumah gadis itu, lalu mengirim utusan untuk menyampaikan lamaran kepada bapak si gadis. Namun, ternyata si bapak memberi jawaban yang mengecewakan. Rupanya gadis tersebut sudah dilamar oleh anak pamannya sendiri. Pemuda ini pun tidak melanjutkan lamarannya.
Hari-hari berlalu setelah penolakan lamaran itu, tapi keduanya tidak bisa melupakan satu sama lain. Pemuda itu masih mencintai si gadis dan sering memikirkannya, begitu pula dengan si gadis. Tatkala keduanya semakin didera cinta, si gadis mengirim utusan kepada pemuda itu untuk mengatakan, " Saya sudah mendengar tentang besarnya rasa cintamu kepadaku. Aku pun sedih karenanya. Jika engkau mau, maka aku bisa menemuimu, atau jika engkau mau maka saya bisa mengatur cara agar engkau bisa masuk ke dalam rumahku."
Sang pemuda membalas pernyataan dari si gadis melalui utusan itu pula, "Tidak ada pilihan di antara dua hal yang dicintai ini. Sesungguhnya aku takut azab hari yang besar (kiamat) jika aku mendurhakai Rabbku. Sungguh aku takut api neraka yang baranya tidak pernah padam dan tidak surut jilatannya."
Setelah utusan menyampaikan perkataan pemuda, maka si gadis bertanya-tanya, "Apakah dalam keadaan seperti ini dia masih merasa takut kepada Allah? Demi Allah, tidak seorang pun yang lebih berhak atas demikian itu kecuali satu orang saja, sekali pun manusia bisa bersekutu dalam masalah ini." Gadis itu kemudian memisahkan diri dari segala urusan dunia, semua ditinggalkan dan hanya beribadah semata. Namun, sekali pun begitu ia tidak mampu memadamkan cinta dan kerinduannya kepada pemuda itu, hingga akhirnya ia meninggal karena sakit.
Mengetahui si gadis sudah meninggal, pemuda itu datang menziarahi kubur dan berdoa bagi bagi si gadis. Suatu hari ia menahaan kantuk lalu tanpa sengaja tertidur di atas pusara kuburan si gadis. Di dalam tidurnya itu, ia bermimpi bertemu wanita yang sangat dicintainya itu dengan rupa yang menawan. Dia bertanya, "Bagaimana keadaanmu wahai kekasihku? Apa yang kau temukan setelah berpisah denganku?"
Gadis itu menjawab, "Cinta yang manis wahai orang yang kubutuhkan. Cintamu adakah cinta yang menuntun keadaan kebaikan dan kesantunan."
"Sampai kapan engkau dalam keadaan begini?" tanya pemuda.
"Hingga mencapai kenikmatan dan kehidupan yang tiada sirna di taman surga yang abadi, suatu kekayaan yang tiada lenyap."
Sang pemuda berkata, "Sebutlah namaku di sana, karena aku tak dapat melupakanmu."
"Demi Allah aku juga begitu. Aku telah memohon kepada pelindungku dan pendampingmu agar menyatukan kita berdua. Maka tolonglah aku untuk menggapai tujuan ini dengan sekuat tenaga."
"Kapan aku bisa melihatmu lagi?" Tanya pemuda
"Tak lama engkau akan bertemu aku dan melihatku." Jawab si gadis.
Setelah bermimpi seperti itu, konon si pemuda hanya hidup selama tujuh hari.
Senin, 28 November 2011
إنى ضعيف أستعين على قوى ذنبى ومعصيتى ببعض قواكا
أذنبت ياربى وآذتنى ذنوب ما لها من غافر إلاكا
دنياى غرتنى وعفوك غرنى ما حيلتى فى هذة أو ذاكا
لو أن قلبى شك لم يك مؤمنا بكريم عفوك ما غوى وعصاكا
يا مدرك الأبصار والأبصار لا تدرى له ولكنهه إدراكا
أتراك عين والعيون لها مدى ما جاوزتة ولا مدى لمداكا
إن لم تكن عينى تراك فإننى فى كل شىء أستبين علاكا
يا منبت الأزهار عاطرة الشذا هذا الشذا الفواح نفح شذاكا
يا مرسل الأطيار تصدح فى الربا صدحتها تسبيحة لعلاكا
يا مجرى الأنهار ما جريانها إلا إنفعالة قطرة لنداكا
رباه هأنذا خلصت من الهوى واستقبل القلب الخلى هواكا
وتركت أنسى بالحياة ولهواها ولقيت كل الأنس فى نجواكا
ونسيت حبى وأعتزلت أحبتى ونسيت نفسى خوف أن أنساكا
ذقت الهوى مرا ولم أذق الهوى يا رب حلوا قبل أن أهواكا
أنا كنت يا ربى أسير غشاوة رانت على قلبى فضل سناكا
واليوم يا ربى مسحت غشاوتى وبدأت بالقلب البصير أراكا
يا غافر الذنب العظيم وقابلا للتوب قلب تائب ناجاكا
أتردة وترد صادق توبتى حاشاك ترفض تائبا حاشاكا
يا رب جئتك نادما أبكى على ما قدمتة يداى لا أتباكا
أخشى من العرض الرهيب عليك يا ربى وأخشى منك إذا ألقا
Fi Zhilalil Qur’an “Di Bawah Naungan Al-Qur’an”. Hidup di
bawah naungan Al-Qur’an adalah suatu nikmat. Nikmat yang tidak dimengerti
kecuali oleh yang merasakannya. Nikmat yang mengangkat harkat usia manusia,
menjadikannya diberkahi, dan menyucikannya.
Segala puji milik Allah yang telah memberiku karunia dengan
hidup di bawah naungan Al-Qur’an dalam suatu rentang waktu, yang kurasakan
nikmatnya yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dalam hidupku. Kurasakan
nikmat ini dalam hidupkum yang menjadikan usiaku bermakna, diberkahi, dan suci
bersih.
Kutempuh hidup dengan kudengar Allah yang Mahasuci berbicara
kepadaku dengan Al-Qur’an ini, padahal aku sejumput hamba yang kecil. Adakah
penghormatan bagi manusia seperi penghormatan yang tinggi dan mulia seperti ini?
Adakah pemaknaan dan peningkatan harkat usia seperti yang diberikan oleh Al-Qur’an
ini? Kedudukan manakah yang lebih mulia yang diberikan oleh Pencipta Yang
Mahamulia kepada manusia?
Aku hidup di bawah naungan Al-Qur’an. Dari tempat yang
tinggi, kulihat kejahiliahan yang bergelombang di muka bumi. Kulihat pula
kepentingan-kepentingan penghuninya yang kecil tak berarti. Kulihat kekaguman
orang-orang jahiliah terhadap apa yang mereka miliki bagaikan kanak-kanak;
pikiran-pikiran, kepentingan, dan perhatiannya bagaikan anak kecil. Ketika
kulihat mereka, aku bagaikan seorang dewasa yang melihat permainan anak-anak
kecil, pekerjaan anak-anak kecil dan tutur katanya yang pelat seperti anak kecil.
Mengapakah manusia-manusia ini? Mengapa mereka terbenam
dalam lumpur lingkungan, tanpa bias dan mau mendengar seruan yang luhurdan mulia. Seruan yang mengangkat harkat
kehidupan, menjadikannya diberkahi dan menyucikannya?
Aku hidup di bawah naungan Al-Qur’an sambil bersenang-senang
dengan menikmati gambaran yang sempurna, lengkap, tinggi, dan bersih bagi alam
wujud ini, tentang tujuan alam wujud ini seluruhnya dan tujuan wujud manusia.
Kubandingkan dengan konsepsi jahiliah tempat manusia hidup, di timur dan di
barat, di utara dan selatan, dan aku bertanya,”Bagaimanakah manusia hidup di
dalam kubangan yang busuk, di daratan paling rendah, dan di dalam kegelapan
yang hitam pekat, sementara di sisinya ada tempat yang subur, tempat pendakian
yang tinggi, dan cahaya yang cemerlang?”
Aku hidup di bawah naungan Al-Qur’an; aku rasakan simfoni
yang indah antara gerak kehidupan manusia yang dikehendaki Allah dan gerak alam
semesata yang diciptakan-Nya. Kemudian, kuperhatikan lagi kehidupan jahiliah
maka terlihat olehku kejatuhan yangdialami manusia karena menyimpang dari sunnah kauniyah dan benturan
antara ajaran-ajaran yang rusak serta jahat yang telah lama kemanusiaan
bercokol di atasnya dan fitrah yang diciptakan Allah untuknya. Aku berkata
dalam hati, “setan keparat manakah gerangan yang telah memimbing langkah mereka
ke neraka jahim ini”
Wahai betapa ruginya manusia ini!!!
…..
(Syeikh Sayyid Quthb, dikutip dari potongan Mukadimah
buku Fi Zhilalil Qur'an)
Selasa, 22 November 2011
Mu'adz bin Jabal adalah sahabat nabi yang berbai'at kepada Rasulullah. Ia termasuk orang yang pertama kali masuk Islam (as-Sabiqun al-Awwalun). Mu'adz terkenal sebagai cendekiawan dengan
wawasannya yang luas dan pemahaman yang mendalam dalam ilmu fiqh, dan bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai sahabat yang paling mengerti yang mana yang halal dan yang haram. Mu'adz
juga merupakan duta besar Islam yang pertama kali yang dikirim Rasulullah.
Nama panjangnya adalah Mu’adz
bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji, sedangkan nama julukannya adalah Abu
Abdurahman. Ia dilahirkan di Madinah dan memeluk Islam pada usia 18 tahun.
Fisiknya gagah, berkulit putih, berbadan tinggi, berambut pendek dan ikal, dan
bergigi putih mengkilat. Mu’adz termasuk dalam rombongan berjumlah sekitar 72
orang Madinah yang datang berbai’at kepada Rasulullah, yaitu pada Bai’atul ‘Aqabah
kedua. Setelah itu ia kembali ke Madinah sebagai seorang pendakwah Islam di
dalam masyarakat Madinah. Ia berhasil mengislamkan beberapa orang sahabat
terkemuka seperti Amru bin al-Jamuh. Pada tahun hijrah, Rasulullah
mempersaudarakannya dengan Ja’far bin Abi Thalib.
Menjadi Duta Pertama di
Yaman
Di
usianya yang tergolong sangat muda, Rasulullah telah mengirimnya ke negeri
Yaman untuk mengajarkan ilmu. Rasulullah mengantarnya dengan berjalan kaki
sedangkan Mu’adz berkendaraan. Ketika Rasulullah SAW hendak mengirimnya ke
Yaman, lebih dulu ditanyainya, "Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili
sesuatu, hai Mu'adz?"
"Kitabullah,"
jawab Mu'adz.
"Bagaimana
jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?", tanya Rasulullah pula.
"Saya
putuskan dengan Sunnah Rasul."
"Jika
tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?"
"Saya pergunakan pikiranku
untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia," jawab Mu’adz.
Maka berseri-serilah wajah Rasulullah. "Segala puji bagi Allah yang telah
memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh
Rasulullah," sabda beliau.
Rasulullah bersabda kepadanya: “Sungguh, aku mencintaimu”.
Dan
mungkin kemampuan untuk berijtihad dan keberanian menggunakan otak dan
kecerdasan inilah yang menyebabkan Mu'adz berhasil mencapai kekayaan dalam ilmu
fiqih, mengatasi teman dan saudara-saudaranya hingga dinyatakan oleh Rasulullah
sebagai "orang yang paling tahu tentang yang halal dan yang haram".
Cintanya pada
Rasulullah
Dikisahkan
dari Said bin Ziyad dari Khalid bin Saad, bahwa Mu'adz bin Jabal ra telah
berkata: "Rasulullah SAW telah mengutusku ke Negeri Yaman untuk memberikan
pelajaran agama di sana. Maka tinggallah aku di sana. Pada satu malam aku
bermimpi dikunjungi oleh seseorang. Kemudian orang itu berkata kepadaku:
"Apakah anda masih tidur juga wahai Mu'adz, padahal Rasulullah SAW telah
berada di dalam tanah." Mu'adz terbangun dari tidur dengan rasa takut,
lalu ia mengucapkan: "A'uzubillahi minasy syaitannir rajim?" Setelah
itu ia lalu mengerjakan solat. Pada malam seterusnya, ia bermimpi seperti mimpi
malam yang pertama. Mu'adz berkata: "Kalau seperti ini, bukanlah dari
syaitan?" Kemudian ia memekik sekuat-kuatnya, sehingga didengar sebahagian
penduduk Yaman.
Pada
esok harinya orang ramai berkumpul, lalu Mu'adz berkata kepada mereka:
"Malam tadi dan malam sebelumnya saya bermimpi yang sukar untuk difahami.
Dahulu, bila Rasulullah SAW bermimpi yang sukar difahami, baginda membuka
Mushaf (al-Quran). Maka berikanlah Mushaf kepadaku. Setelah Mu'adz menerima
Mushaf, lalu dibukanya maka nampaklah firman Allah yang bermaksud:
"Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati pula?"
(Az-Zumar: 30).
Maka menjeritlah Mu'adz, sehingga ia tak sadarkan diri. Setelah ia sadar
kembali, ia membuka Mushaf lagi, dan ia nampak firman Allah yang berbunyi:
"Muhammad itu tidak lain hanyalah
seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah
jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa
yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada
orang-orang yang bersyukur?" (Ali-lmran: 144).
Maka Mu'adz pun menjerit lagi: "Aduhai Abu-Qassim. Aduhai Muhammad?"
Kemudian ia keluar meninggalkan Negeri Yaman menuju ke Madinah. Ketika ia akan
meninggalkan penduduk Yaman, ia berkata: "Seandainya apa yang kulihat ini
benar. Maka akan meranalah para janda, anak-anak yatim dan orang-orang miskin,
dan kita akan menjadi seperti biri-biri yang tidak ada pengembala."
Kemudian ia berkata: "Aduhai sedihnya berpisah dengan Nabi Muhammad SAW?"
Lalu ia pun pergi meninggalkan mereka.
Di
saat ia berada pada jarak lebih kurang tiga
hari perjalanan dari Kota Madinah, tiba-tiba terdengar olehnya suara halus dari
tengah-tengah lembah, yang mengucapkan firman Allah yang bermaksud:
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati." Lalu Mu'adz
mendekati sumber suara itu, setelah berjumpa, Mu'adz bertanya kepada orang
tersebut: "Bagaimana kabar Rasulullah SAW? Orang tersebut menjawab: Wahai
Mu'adz, sesungguhnya Muhammad SAW telah meninggal dunia. Mendengar ucapan itu Mu'adz
terjatuh dan tak sadarkan diri. Lalu orang itu menyadarkannya, ia memanggil
Mu'adz: Wahai Mu'adz sadarlah dan bangunlah." Ketika Mu'adz sadar kembali,
orang tersebut lalu menyerahkan sepucuk surat untuknya yang berasal dari Abu
Bakar Assiddiq, dengan cop dari Rasulullah SAW. Tatkala Mu'adz melihatnya, ia
lalu mencium cop tersebut dan diletakkan di matanya, kemudian ia menangis
dengan tersedu-sedu. Setelah puas ia menangis ia pun melanjutkan perjalanannya
menuju Kota Madinah.
Mu'adz sampai di Kota Madinah pada
waktu fajar menyingsing. Didengarnya Bilal sedang mengumandangkan azan Subuh.
Bilal mengucapkan: "Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah?" Mu'adz
menyambungnya: "Wa Asyhadu Anna Muhammadur Rasulullah?" Kemudian ia
menangis dan akhirnya ia jatuh dan tak sadarkan diri lagi. Pada saat itu, di
samping Bilal bin Rabah ada Salman Al-Farisy ra lalu ia berkata kepada Bilal:
"Wahai Bilal sebutkanlah nama Muhammad dengan suara yang kuat dekatnya, ia
adalah Mu'adz yang sedang pingsan. Ketika Bilal selesai azan, ia mendekati
Mu'adz, lalu ia berkata: "Assalamualaika, angkatlah kepalamu wahai Mu'adz,
aku telah mendengar dari Rasulullah SAW, baginda bersabda: "Sampaikanlah
salamku kepada Mu'adz." Maka Mu'adz pun mengangkatkan kepalanya sambil
menjerit dengan suara keras, sehingga orang-orang menyangka bahwa ia telah
menghembus nafas yang terakhir, kemudian ia berkata: "Demi ayah dan ibuku,
siapakah yang mengingatkan aku pada baginda, ketika baginda akan meninggalkan
dunia yang fana ini, wahai Bilal? Marilah kita pergi ke rumah istri baginda
Siti Aisyah ra."
Ketika sampai di depan pintu rumah Siti
Aisyah, Mu'adz mengucapkan: "Assalamualaikum ya ahlil bait, wa
rahmatullahi wa barakatuh?" Yang keluar ketika itu adalah Raihanah, ia
berkata: "Aisyah sedang pergi ke rumah Siti Fatimah. Kemudian Mu'adz
menuju ke rumah Siti Fatimah dan mengucapkan: "Assalamualaikum ya ahli
bait." Siti Fatimah menyambut salam tersebut, kemudian ia berkata, "Rasulullah
SAW bersabda: Orang yang paling alim di antara kamu tentang perkara halal dan
haram adalah Mu'adz bin Jabal, ia adalah kekasih Rasulullah SAW."
Kemudian Fatimah berkata lagi: "Masuklah
wahai Mu'adz?" Fatimah ra lalu berkata kepadanya: "Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda: "Sampaikanlah salam saya kepada Mu'adz dan kabarkan
kepadanya bahwa ia kelak di hari kiamat sebagai imam ulama." Kemudian
Mu'adz bin Jabal keluar dari rumah Fatimah ra menuju ke arah kubur Rasulullah
SAW.
Pesonanya
Dalam
kecerdasan otak dan keberaniannya mengemukakan pendapat, Mu'adz hampir sama
dengan Umar bin Khathab.
Suatu
hari, pada masa pemerintahan Khalifah Umar, A'idzullah bin Abdillah masuk
masjid bersama beberapa orang sahabat. Maka ia pun duduk pada suatu majelis
yang dihadiri oleh tiga puluh orang lebih. Masing-masing menyebutkan sebuah
hadits yang mereka terima dari Rasulullah SAW.
Dalam halaqah tersebut ia dapati seorang anak muda yang tampan, kulitnya
hitam manis, bersih, dan baik tutur katanya. Usianya paling muda di antara yang
lainnya. Jika mereka mendapati keraguan terhadap suatu hadits, mereka
menanyakannya kepada anak muda itu dan ia segera memberikan fatwanya. Dan ia
tidak berbicara kecuali bila diminta. Dan ketika majlis itu berakhir,
‘Aidzullah menanyakan siapa namanya. Dan ia menjawab, saya adalah Mu’adz bin
Jabal.
Shahar
bin Hausyab tidak ketinggalan memberikan ulasan, katanya, "Bila para
sahabat berbicara, sedang di antara mereka hadir Mu'adz bin Jabal, tentulah
mereka akan sama-sama meminta pendapatnya karena kewibawaannya." Dan
Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra sendiri sering meminta pendapat dan buah
pikirannya. Bahkan dalam salah satu peristiwa di mana ia memanfaatkan pendapat
dan keahliannya dalam hukum, Umar pernah berkata, "Kalau tidaklah berkat
Mu'adz bin Jabal, akan celakalah Umar!"
Ia
seorang pendiam, tak hendak bicara kecuali atas permintaan hadirin. Dan jika
mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, mereka pulangkan kepada Mu'adz untuk
memutuskannya. Maka jika ia telah buka suara, adalah ia sebagaimana dilukiskan
oleh salah seorang yang mengenalnya: "Seolah-olah dari
mulutnya keluar cahaya dan mutiara". Dan kedudukan yang tinggi
di bidang pengetahuan ini, serta penghormatan kaum Muslimin kepadanya, baik
selagi Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat, dicapai Mu'adz
sewaktu ia masih muda. Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, sedang
usianya belum 33 tahun!
Mu'adz
adalah seorang yang murah tangan, lapang hati dan tinggi budi. Tidak sesuatu
pun yang diminta kepadanya, kecuali akan diberinya secara berlimpah dan dengan
hati yang ikhlas. Sungguh kemurahan Mu'adz telah menghabiskan semua hartanya.
Muda, Cerdas, Sholeh, Sukses
Di
Yaman selain berdakwah menyebarkan dan mengajarkan Islam, Mu’adz bin Jabal juga
berdagang sebagaimana para sahabat lainnya. Karena kepandaian dan ketekunannya
pulalah, maka ia berhasil meningkatkan omset dagangnya dan berubah menjadi
pribadi yang kaya raya, santun dan faqih. Ketika Rasulullah SAW wafat, Mu’adz
masih berada di Yaman. Di masa pemerintahan Abu Bakar, Mu’adz kembali ke
Madinah, dan di awal kedatangannya terjadi sebuah kisah indah penuh ukhuwah
antara Mu’adz, Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Di
masa pemerintahan Abu Bakar, Mu'adz kembali ke Yaman. Umar tahu bahwa Mu'adz
telah menjadi seorang yang kaya raya. Kekayaan pribadinya meningkat tajam dari
beberapa tahun sebelumnya. Seperti biasa, ketegasan dan kewaspadaan ala Umar
bin Khattab berjalan, beliau sebagai penasehat khalifah segera mengusulkan
kepada Abu Bakar agar membagi dua kekayaan Mu’adz dan menyerahkannya kepada
negara, sebagai bentuk kehati-hatian sebagai pengelola negara. Abu Bakar tidak
segera menyetujui usulan dari Umar, namun tanpa menunggu persetujuan Abu Bakar,
secara pribadi Umar bersegera mendatangi Mu’adz untuk datang sebagai sahabat.
Mu'adz
adalah seorang yang bersih tangan dan suci hati. Dan seandainya sekarang ia
telah menjadi kaya raya, maka kekayaan itu diperolehnya secara halal, tidak
pernah diperolehnya dengan berbuat dosa. Bahkan juga tak hendak menerima barang
yang syubhat.
Mu’adz bin Jabal sebagaimana kita ketahui dalam testimoni Rasulullah SAW,
adalah orang yang paham tentang halal dan haram. Termasuk halal dan haram dalam
transaksi dan perdagangan. Ia tidak mengenal bertransaksi dengan unsur maysir
(spekulasi), ghoror (tipuan), gheis (curang) apalagi ikhtikar (menimbun barang)
dan riba. Kekayaan yang didapat pun tak lebih dari buah ketekunan dan
kecerdasan, yang mendapatkan taufiq dari ar-rozzaq Allah SWT, jauh dari segala
syubhat apalagi yang haram.
Maka
ketika Umar datang ke rumahnya dan mengemukakan usulannya untuk membagi dua
harta tersebut, Mu’adz pun menolak dengan argumen yang cerdas dan hujjah yang
kuat. Diskusi hangat dua sahabat mulia itu pun berakhir dan Umar
berpamitan meninggalkannya. Sungguh ia tidak hasad dan iri dengan kekayaan Mu’adz,
tidak pula ia menuduh Mu’adz bermaksiat dengan mencari jalan haram dalam
menumpuk kekayaan, namun ia hanya takut karena saat itu Islam sedang mengalami
kejayaan dan kegemilangan, di luar sana banyak tokoh-tokoh yang memanfaatkan
hal tersebut dengan bergelimang harta tanpa kejelasan sumber halalnya. Inilah
yang ditakuti Umar, tidak lebih.
Hari
itu, Umar ditolaknya dan alasan yang dikemukakannya dipatahkannya dengan alasan
pula. Kemudian Umar berpaling meninggalkannya. Namun, pagi-pagi keesokan
harinya Mu'adz pergi ke rumah Umar. Ketika sampai di sana, Mu'adz merangkul dan
memeluk Umar, sementara air mata mengalir mendahului kata-katanya. "Malam
tadi saya bermimpi masuk kolam yang penuh dengan air, hingga saya cemas akan
tenggelam. Untunglah anda datang, hai Umar, dan menyelamatkan saya!"
Nampaknya
mimpi tersebut membuat Mu’adz ingin segera menuruti usulan Umar bin Khattab
untuk membagi dua harta kekayaannya yang diperoleh dari Yaman. Maka
keduanya pun segera menghadap Abu Bakar, dan Mu’adz pun mengutarakan niatnya,
meminta kepada khalifah untuk mengambil seperdua hartanya.
Namun
apa jawab khalifah Abu Bakar yang mulia? Khalifah yang timbangan imannya tak
tertandingi oleh penghuni bumi ini menolak dengan tegas, ia mengatakan: “Tidak
satu pun yang akan saya ambil darimu”. Abu Bakar tahu dan yakin bahwa Mu’adz
memperoleh kekayaan dari jalan yang baik, maka ia tidak ingin mengambil satu
dirham pun dari harta sahabatnya tersebut, yang itu berarti kezhaliman dan akan
berbuah kehinaan di akhirat.
Mu’adz
belum puas dengan jawaban sang khalifah, ia pun menoleh dan meminta pendapat
Umar bin Khattab, ia teringat dengan mimpinya semalam yang begitu mendebarkan.
Apa komentar Umar sebagai pihak yang mengawali usulan pembagian harta tersebut,
ia berujar singkat: “ Cukup, sekarang harta itu telah halal dan jadi harta yang
baik”. Subhanallah, kegelisahan pun berakhir dengan kehangatan ukhuwah
dan kemuliaan iman.
Masa
itu adalah masa gemilang, penuh dengan tokoh-tokoh utama yang berpacu mencapai
puncak keutamaan. Di antara mereka ada yang berjalan secara santai, tak ubah
bagi burung yang terbang berputar-putar, ada yang berlari cepat, dan ada pula
yang berlari lambat, namun semua berada dalam kafilah yang sama menuju kepada
kebaikan.
Subhanallah
Wafatnya
Mu'adz pindah ke Syria (Suriah),
di mana ia tinggal bersama penduduk dan orang yang berkunjung ke sana sebagi
guru dan ahli hukum. Dan tatkala Abu Ubaidah bin Jarrah—amir atau gubernur
militer di sana serta shahabat karib Mu'adz—meninggal dunia, ia diangkat oleh
Amirul Mukminin Umar sebagai penggantinya di Syria. Tetapi hanya beberapa bulan saja ia memegang
jabatan itu, Mu'adz dipanggil Allah untuk menghadap-Nya dalam keadaan tunduk
dan menyerahkan diri. Mu’adz bin Jabal wafat tahun 18 H ketika terjadi wabah
hebat di Urdun tempat ia mengajar sebagai utusan khalifah Umar bin
Khattab. Saat itu usianya 33 tahun.
Menjelang
akhir hayatnya, Mu'adz berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya selama ini aku
takut kepada-Mu, tetapi hari ini aku mengharapkan-Mu. Ya Allah, Engkau
mengetahui bahwa aku tidaklah mencintai dunia demi untuk mengalirkan air sungai
atau menanam kayu-kayuan, tetapi hanyalah untuk menutup haus di kala panas, dan
menghadapi saat-saat yang gawat, serta untuk menambah ilmu pengetahuan,
keimanan, dan ketaatan."
Lalu diulurkanlah tangannya
seolah-olah hendak bersalaman dengan maut, dan dalam keberangkatannya ke alam
gaib, ia masih sempat berujar, "Selamat datang wahai maut. Kekasih tiba di
saat diperlukan..." Dan nyawa Mu'adz pun melayanglah menghadap Allah
Kutipan Kisah Bersama Rasulullah,
Kekasih yang Dicintainya
Pada
suatu hari Rasulullah SAW bersabda, "Hai Mu'adz! Demi Allah, aku sungguh
sayang kepadamu. Maka jangan lupa setiap habis shalat mengucapkan: 'Ya Allah,
bantulah aku untuk selalu ingat dan syukur serta beribadat dengan ikhlas
kepada-Mu."
Mu'adz mengerti dan memahami ajaran tersebut dan telah menerapkannya secara
tepat.
Pada suatu pagi Rasulullah bertemu dengan Mu'adz, maka beliau bertanya,
"Bagaimana keadaanmu di pagi hari ini, hai Mu'adz?"
"Di
pagi hari ini aku benar-benar telah beriman, ya Rasulullah," jawabnya.
"Setiap
kebenaran ada hakikatnya," kata Nabi pula, "maka apakah hakikat
keimananmu?"
"Setiap
berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan
setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi.
Dan tiada satu langkah pun yang kulangkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan
diiringi dengan langkah lainnya. Dan seolah-olah kesaksian setiap umat jatuh
berlutut, dipanggil melihat buku catatannya. Dan seolah-olah kusaksikan penduduk
surga menikmati kesenangan surga. Sedang penduduk neraka menderita siksa dalam
neraka."
Maka
sabda Rasulullah SAW, "Memang, kamu mengetahuinya, maka pegang teguhlah
jangan dilepaskan!"
Kisah lainnya:
Mu’adz
bin Jabal radhiyallahu‘anhu berkata: “Saya pernah bersama Nabi sholAllahu
‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan. Pada suatu pagi ketika kami sedang
berjalan, aku berada di dekat beliau, maka aku berkata, Wahai Rasulullah
kabarkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan aku ke dalam Surga dan
menjauhkan aku dari Neraka”.
Maka
beliau bersabda: “Sungguh engkau telah bertanya kepadaku tentang perkara yang
begitu besar akan tetapi akan terasa mudah bagi orang-orang yang dimudahkan
oleh Allah, engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan
suatu apapun, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan
Ramadhan dan melaksanakan ibadah haji.”
Kemudian
beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Maukah aku tunjukkan kepadamu
pintu-pintu kebaikan? Berpuasa adalah perisai, sedekah dapat memadamkan
dosa-dosa sebagaimana air dapat memadamkan api, demikian juga shalat
seseorang di tengah malam, kemudian beliau membacakan ayat, ‘…lambung-lambung
mereka jauh dari tempat tidur mereka…’ hingga ‘..apa yang telah mereka kerjakan’
[QS. As-Sajdah ; 17]
Kemudian
beliau bersabda: “Maukah aku tunjukkan urusan yang terpenting, tiang-tiang
penyanggahnya, dan puncak tertingginya ?” Saya katakan: “Tentu wahai Rasulullah”.
Maka beliau bersabda: “Urusan terpenting adalah Islam, tiang penopangnya adalah
shalat sedangkan puncak tertingginya (atapnya) adalah jihad”.
Kemudian
lanjutnya: “Maukah aku kabarkan kepadamu tentang kunci semua itu ?” Saya
menjawab: “Tentu wahai Rasulullah”. Maka beliau memegang lidahnya, lalu
bersabda: “Jagalah olehmu ini!” Aku bertanya: “Wahai Nabi Allah, apakah kami
akan disiksa dengan sebab perkataan yang kami ucapkan?”
Beliau
menjawab: “Ibumu kehilangan kamu ya Mu’adz, bukankah orang-orang itu tersungkur
di Neraka diatas wajah-wajah mereka atau diatas hidung-hidung mereka, tidak
lain disebabkan oleh ulah lisan-lisan mereka ?”